HASIL KAJIAN RISIKO BENCANA DI DESA DADAP KECAMATAN SAMBELIA KABUPATEN LOMBOK TIMUR

 

 

 

 

 

LAPORAN

HASIL KAJIAN RISIKO BENCANA

DI DESA DADAP KECAMATAN SAMBELIA

KABUPATEN LOMBOK TIMUR

 

 

 

 

 

 

 

Difasilitasi oleh:

TIM BPBD LOMBOK TIMUR DAN TIM LPSDM

 

 

 

 

 

 

Kajian ini dapat terlaksana atas kerjasama antara:

Pemerintah Desa Dadap,

Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kab. Lombok Timur,

Lembaga Pengembangan Sumber Daya Mitra, Lombok Timur

dan World Neighbors

Kata Pengantar

 

Kajian Risiko Bencana telah dilakukan di Desa Dadap Kecamatan Sambelia Kabupaten Lombik Timur pada Tgl. 10 – 11 Nopember 2017.

Kajian ini  menggunakan beberapa teknik dan metode, yaitu: Alur Sejarah Bencana,  Kalender Musim, Pemetaan Lokasi Bencana, Penelusuran Wilayah Lokasi Bencana, dan Analisis Risiko Bencana. Jumlah peserta dari masyarakat yang hadir dalam  kajian resiko bencana ini 23 orang (20 orang laki-laki dan 3 orang perempuan) yang mewakili masyarakat , serta tokoh-tokoh masyarakat (tokoh agama, pemuda, dan wanita).

Sebelum kajian dimulai, fasilitator memberikan pemahaman tentang perubahan iklim dan pengurangan risiko bencana. Masyarakat diajak berdiskusi tentang factor iklim, pemanasan global, gas rumah kaca, praktek-praktek masyarakat yang menyebabkan perubahan iklim dan dampak perubahan iklim. Melalui pemahaman ini masyarakat mudah menemu kenali bencana-bencana yang dirasakan. Bahkan masyarakat menyadari bahwa bencana yang dirasakan selama ini sebagian besar disebabkan oleh mereka sendiri.

Mengawali diskusi, fasilitator mengajak peserta untuk mengkaji  mengenai  alur Sejarah Bencana

Berdasarkan diskusi dari Alur Sejarah teridentifikasi 5 jenis bencana penting yang pernah terjadi di Desa Dadap.  Berdasarkan pemeringkatan yang dilakukan, urutan tingkat pentingnya bencana tersebut untuk dikaji lebih lanjut adalah: 1) Banjir dan angina kencang, 2) Kekeringan 3) Wabah penyakit (muntaber dan malaria)  4) Gangguan hama dan 5) Penyakit pada ternak. Tetapi karena keterbatasan waktu kajian maka hanya 3 jenis bencana yang dikaji bersama yaitu 1). Banjir dan angina kencang, 2). Kekeringan dan 3). Gangguan hama.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

BAB  I

PENDAHULUAN

 

Latar Belakang

Pemanasan global yang berdampak pada perubahan iklim dan cuaca ekstrim telah terjadi dalam beberapa tahun belakangan ini telah menimbulkan berbagai kebingungan, baik di tingkat masyarakat maupun pemerintah. Perubahan tersebut telah berdampak pada perubahan musim yang tidak bisa diprediksi. Bagi masyarakat di Lombok yang mengandalkan sumber mata pencaharian pada sistem pertanian lahan kering, pergeseran waktu curah hujan dan intensitas hujan yang tidak menentu telah menyebabkan kegagalan panen (padi, jagung dan palawija lainnya) di mana-mana. Kegagalan panen tersebut telah mengancam ketahanan pangan di masyarakat dan juga penurunan sumber pendapatan petani dari hasil tanaman umur panjang.

Selain telah mengancam, perubahan iklim dan cuaca ekstrim yang terjadi pada beberapa tahun belakangan ini juga telah menimbulkan berbagai bencana, antara lain banjir, angin kencang, kemarau panjang dan longsor yang merusak lahan pertanian, pemukiman, infrastruktur, dan lain-lain. Bencana-bencana tersebut telah menjadikan masyarakat yang sudah cukup rentan, menjadi semakin rentan.

Perubahan iklim dan cuaca ekstrim sebenarnya lebih banyak disebabkan oleh perilaku manusia yang kurang bersahabat dalam menjaga daya dukung lingkungan. Namun sayangnya, banyak masyarakat yang tidak memahami secara utuh tentang komponen-komponen iklim, perubahan-perubahan yang terjadi serta faktor-faktor yang telah menyebabkan perubahan tersebut. Karena ketidakpahaman tersebut, perilaku yang dikembangkan bahkan masih mengancam kelestarian lingkungan dan mendorong perubahan iklim yang lebih besar. Oleh karena itu, dibutuhkan upaya-upaya untuk membangun pemahaman bersama para pihak tentang iklim, perubahan yang terjadi, dan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan tersebut.

Perlu juga dibangun pemahaman bersama bahwa penanggulangan bencana membutuhkan peran aktif berbagai pihak (pemerintah, LSM, organisasi masyarakat, dll) secara terpadu dan bersama-sama untuk melakukan tindakan – baik tindakan mitigasi maupun adaptasi – agar dampak negatif dari perubahan iklim dan bencana yang terjadi bisa diminimalkan.

Masyarakat perlu mengembangkan rencana aksi di tingkat desa guna menyikapi perubahan iklim, termasuk menurunkan risiko dan meningkatkan kapasitas masyarakat jika bencana-bencana yang diprediksikan benar-benar terjadi. Rencana aksi tersebut perlu dikomunikasikan secara aktif oleh masyarakat kepada pemerintah, dan pemerintah wajib merespon kebutuhan masyarakat tersebut. Dengan demikian, dapat meningkatkan ketahanan masyarakat dari sejak awal dan mencegah dampak yang lebih besar dari bencana.

Karena itulah dilakukan kajian perubahan iklim dan bencana yang melibatkan seluruh lapiasan masyarakat sehingga bisa membangun pemahaman bersama para pihak dalam menyikapi perubahan iklim dan penanggulangan bencana.

 

Tujuan

Kajian Perubahan Iklim dan Resiko Bencana ini bertujuan untuk:

1.        Membangun pemahaman masyarakat tentang iklim, proses perubahan iklim dan akibat yang ditimbulkannya.

2.        Mendapatkan impormasi tentang jenis-jenis bencana yang pernah terjadi di desa selama kurun waktu sekitar 10 tahun terahir

3.        Melakukan kajian- kajian terhadap setiap jenis bencana yang pernah terjadi, yang meliputi : kemungkinan terjadinya lagi bencana tersebut, tingkat ancamannya, tingkat kerentenannya, serta kapasitas yang dimiliki dalam menghadapi setiap bencana .

4.        Membuat rencana aksi yang memungkinkan untuk dilaksanakan dalam menghadapi bencana baik secara swadaya maupun bantuan oleh pemerintah maupun pihak swasta (LSM)

5.        Membangun komitmen bersama untuk bekerjasama dalam membangun kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintah dalam menghadapi bencana

6.        Masyarakat lebih siap dalam menghadapi segala kemungkinan yang ditimbulkan akibat terjadinya bencana

 

Keluaran

Keluaran yang ingin dicapai dari Kajian  ini adalah:

1.        Tersedianya data/informasi mengenai berbagai jenis bencana yang perlu mendapat perhatian dari semua pihak.

2.        Diketahui kemungkinan akan terjadinya bencana, ancaman serta kerawanan yang akan timbul bila terjadi bencana dan masyarakat mengetahui kemampuan yang dimiliki atau kapasitasnya dalam menghadapi setiap bencana.

3.        Adanya rencana aksi yang akan dilakukan oleh masyarakat dalam mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan terjadinya bencana

4.        Adanya kesiapan masyarakat dalam membuat aturan-aturan dalam menangani bencana

5.        Ada komitmen bersama untuk membangun kerjasama dalam upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim dan membangun kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana.

 

 

 

 

BAB  II

PROFIL DESA DADAP

 

Gambaran Umum

Desa Dadap merupakan salah satu desa dari 11 (sebelas) desa yang ada di wilayah adminstratif Kecamatan Sambelia Kabupaten Lombok Timur dengan luas wilayah 3,94 km3, yang berupa tanah pertanian sedangkan sebagiannya berupa tegalan, pekarangan dan pemukiman penduduk, dengan tofografi berbukit. Terletak pada ketinggian 10 m/dpl, dengan tofografi berbukit dan bergelombang, serta iklim tropis yang memiliki 2 (dua) musim yaitu : musim hujan dan musim kemarau. Curah hujan rata-rata mencapai 692mm/th terjadi pada bulan Desember sampai Mei dan musim kemarau terjadi pada bulan Juni sampai November. Batas wilayah desa Sambelia

Sebelah Utara  berbatasan dengan  desa Sugian

Sebelah Selatan berbatasan  dengan desa Labuhan Pandan

Sebelah Timur  berbatasan   dengan Selat Alas

Sebelah Barat  berbatasan  dengan desa Bagik Manis

 

Kondisi Geografis

 

No

Uraian

Keterangan

1

Luas Wilayah

3,94 km3

1,61 %

2

Jarak Dari Kota ibu kota kecamatan

7 km

3

Jarak Dari Kota ibu kota kabupaten

57

4

Tinggi DPL

025 M

5

Curah hujan

400 mm/th

6

Hari hujan

100

 

Perangkat Desa

Uraian

Jumlah

Kepala Desa

1

Sekretaris Desa

1

Perangkat desa

12

BPD

5

Kepala dusun

4

RT

16

 

Jumlah penduduk  di Desa Dadap berjumlah 2.654 jiwa  dengan 902  KK. Mayoritas adalah petani  lahan kering yang sangat tergantung pada curah hujan seperti  terlihat pada tabel dibawah ini :

Data Penduduk

No

Uraian

Keterangan

A

Jumlah Penduduk Secara Umum

 

1

Jumlah Penduduk

2.654 jiwa

2

Jumlah Penduduk Laki-laki

1.316 jiwa

3

Jumlah Penduduk Perempuan

1.338 jiwa

4

Kepadatan Penduduk

674  jiwa/km2

 

Jumlah penduduk dispable

-

5

Jumlah KK

902  KK

 

Jumlah penduduk penerima jamkesmas/bpjs

-

6

Prasejahtera

250 KK

 

Sejahtera 1

486 KK

 

Sejahtera 2

580 KK

 

Sejahtera 3

760 KK

 

Sejahtera 3+

578 KK

B

Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencaharian

 

1

Petani

672

 

Buruh tani

275

2

Peternak

-

3

Nelayan

253

4

PNS/Tentara

1

5

Pensiunan

-           

6

Lainya

                   66

C

Jumlah Penduduk Menurut Agama

 

Islam

2.654Jiwa

2

Katholik

 

3

Protestan

 

4

Hindu/Budha

-           

5

Marapu

-           

 

Sarana Infrastruktur Umum

Kondisi Sarana Infrastruktur Umum

 

No

Uraian

Jumlah

Keterangan

1

SD

1 Unit

Swasta

2

SMP

1 Unit

Swasta

3

Play group

1 Unit

Negeri

1 Unit

Swasta

4

Masjid

5 unit

Pembangunan Secara swadaya

5

Musholla

11 unit

Pembangunan Secara swadaya

6

PUSTU

-

-

7

Poskesdes

1 Unit

-

8

Posyandu

5 unit

-

9

Kantor Desa

1unit

 -

10

Kantor Police

-

-

11

Jalan Desa jalan aspal

2,20 Km

1,50 baik, 0,70 rusak

12

Sarana penerangan listrik

-

-

13

Bendungan

-

-

 

Kondisi Sumber Daya Manusia

 

 

 

Aspek Indikator

Jumlah

 

Pendidikan

 

Total

L

P

 

SD

148

125

123

 

Play Group

354

-

-

 

TK

-

-

-

 

Diploma

-

-

-

 

S1

-

-

-

 

S2

-

-

-

 

Lainnya

-

-

-

 

 

Perekonomian:

Sarana pendukung  Ekonomi:

Uraian

Jumlah

Pasar Mini

-

Kios

-

Kendaraan umum yang masuk ke wilayah tersebut

-

 

Kondisi perekonomian masyarakat

Uraian

Jumlah (KK)

Mobil Pribadi

-

Motor Pribadi

 

Rumah permanen

 

Rumah non permanen

 

Pengguna listrik PLN

-

Pengguna listrik non PLN

 

Petromak

-

Kayu bakar

-

Pelita

 

Genset pribadi

-

Jumlah KK yang rawan pangan

 

 

Kesehatan

Fasilitas kesehatan yang ada di Desa Dadap adalah sebagai berikut:

No

Uraian

Jumlah

1

Rumah sakit

-

Posyandu

5

Puskesmas

-

Rumah/kantor praktek dokter

-

Polindes

1

Posmaldes

-

2

Tenaga Kesehatan

 

Bidan

-

Perawat

-

Dukun bersalin terlatih

3

Para Medis

-

Sarana kesehatan lainnya

-

 

Penggunaan alat KB:

No

Jenis alat KB

Jumlah

1

IUD

28

2

Kondom

53

3

PIL

101

4

MOP

12

5

MOW

2

6

Suntikan

215

7

Implan

31

 

Akses air bersih

No

Uraian

Jumlah (Unit)

Pemanfaatan (KK)

1

Sumur Gali

-

-

2

Sumur Pompa

-

-

3

Bak Penampungan Air Hujan

-

-

4

Mata Air

7

902

5

Pengolahan air

-

 

6

Perpipaan

-

-

7

Sungai

1

432

8

Embung

1

657

8

Lain-lain

-

 

 

Sanitasi

No

Jenis

Jumlah

1

Jamban Keluarga (KK)

-

2

MCK Umum (Unit)

-

3

Sumur Resapan Air Rumah Tangga (Rumah)

-

4

Leher Angsa

 

5

Plengsengan

 

6

Cemplung

 

7

Lainya

 

                                       

 

 

 

 

 

Komoditi Pertanian

Potensi  tanaman  semusim di Dadap adalah  sebagai  berikut :

No

Uraian

Luas (ha)

Produksi (ton)

1

Padi sawah

-

-

2

Padi ladang

-

-

3

Jagung

-

-

4

Tomat

-

-

5

Kacang panjang

-

-

 

Potensi Komoditi Perkebunan dan Hutan di Desa Dadap adalah sebagai berikut:

Aspek Indikator

Jumlah

Jenis Tanaman Perkebunan (jumlah pohon)

Coklat

 

Belum produksi

-

Sudah produksi

-

Cengkeh

 

Belum produksi

-

Sudah produksi

-

Tembakau

 

Belum produksi

-

Sudah produksi

-

Kopi

 

Belum produksi

-

Sudah produksi

-

Luas Hutan Desa

.........................

Rata-rata kepemilikan lahan

........................

 

Ternak

Jumlah Ternak didesa Dadap:

No

Jenis

Jumlah

1

Sapi potong

-

2

Kambing/Domba

-

 

Program mitra yang ada di Desa

No

Uraian

Jenis Program

1

LPSDM

Pengurangan Risiko Bencana

2

 

 

3

 

 

 

 


 

BAB III

METODOLOGI DAN PROSES KAJIAN DRA

 

Kajian ini menggunakan beberapa teknik dan metode, antara lain Bagan Alur Sejarah Bencana, Bagan Peringkat Bencana, Kalender Musim, Pemetaan Lokasi Bencana, Penelusuran Wilayah Lokasi Bencana, dan Analisis Risiko Bencana.

Bagan alur sejarah digunakan untuk mengidentifikasi jenis-jenis bencana yang pernah terjadi di Desa Dadap selama kurun waktu yang masih bisa diingat oleh masyarakat. Untuk mengetahui tingkat urgensi dari bencana-bencana yang pernah terjadi, dibuat bagan peringkat dengan menggunakan parameter frekuensi kejadian, jumlah korban, kecenderungan akan terjadi lagi, luasan dampak, dan nilai kerugian.

Kalender musim digunakan untuk mengidentifikasi kembali pola distribusi curah hujan, kecepatan angin, dan suhu udara; serta menarik hubungan antara komponen-komponen iklim tersebut dengan tingkat keberhasilan pengembangan tanaman yang dilakukan oleh masyarakat di Desa Dadap.

Pemetaan wilayah bencana dilakukan untuk memetakan lokasi-lokasi kejadian bencana yang pernah terjadi. Hasil pemetaan ditindaklanjuti dengan penelusuran wilayah (transek) untuk menggali informasi lebih mendalam tentang bencana yang pernah terjadi di lokasi tersebut.

Berdasarkan jenis-jenis bencana yang teridentifikasi, dengan mempertimbangkan waktu yang ada dan jumlah peserta yang terlibat dalam kajian, diambil 3 jenis bencana untuk diperdalam melalui Analisis Risiko Bencana. Analisis risiko bencana menggunakan 3 faktor, yaitu Ancaman, Kerentanan, dan Kapasitas. Masing-masing faktor dijabarkan ke beberapa aspek. Setiap aspek dianalisis dengan menggunakan beberapa parameter yang dikembangkan bersama masyarakat. Penilaian terhadap parameter-parameter yang disepakati menggunakan sistem skoring dari 1 sampai 3, dimana 1 bermakna kategori rendah, 2 untuk kategori sedang, dan 3 untuk kategori tinggi. Hasil penilaian dari setiap parameter kemudian dicari nilai rata-rata secara bertingkat mulai dari rata-rata pada tingkatan aspek dan akhirnya rata-rata pada tingkat faktor.

Untuk masing-masing jenis bencana, berdasarkan nilai rata-rata yang diperoleh pada masing-masing faktor, dihitung Tingkat Risiko Bencana dengan rumus sebagai berikut:

                                                                        Ancaman X Kerentanan

            Tingkat Risiko Bencana =    ---------------------------------

                                                                                      Kapasitas

Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, Tingkat Risiko Bencana dibagi menjadi 3 kategori sebagai berikut :

Skor                       Tingkat Risiko Bencana

1 s/d < 3                               Rendah

3 s/d < 6                               Sedang

6 s/d 9                                   Tinggi

Berdasarkan hasil analisis risiko masing-masing jenis bencana, kemudian dikembangkan gagasan-gagasan yang bisa dibuat di tingkat masyarakat. Gagasan-gagasan tersebut kemudian dikembangkan menjadi rencana aksi di tingkat masyarakat.

 

 

 

 

 

BAB IV

HASIL KAJIAN DAN ANALISA TINGKAT RISIKO BENCANA

 

Jenis Bencana Dan Pemeringkatan

Berdasarkan alur sejarah, teridentifikasi 5 jenis bencana penting yang pernah terjadi di Desa Dadap. Berdasarkan pemeringkatan yang dilakukan, urutan tingkat pentingnya bencana tersebut mulai dari tingkat kepentingan tertinggi sampai terendah adalah sebagai berikut :

1.      Banjir dan angin kencang

2.      Banjir

3.      Kekeringan

4.      Wabah penyakit (muntaber dan malaria)

5.      Penyakit pada ternak

 

Tingkat Risiko Bencana

Berdasarkan hasil analisis risiko bencana terhadap 3 jenis bencana yang telah dilakukan, tingkat risiko masing-masing bencana adalah sebagai berikut.

Jenis Bencana                                                   Skor                    Tergolong

1.       Banjir  dan angina kencang                  6,42                        Tinggi

2.       Kekeringan                                                                 3,36                        Rendah cendrung sedang

3.       Gangguan hama                                       5,14                        Sedang

 

 

 

 

 

Analisis Masing-masing Bencana

A.        Bencana Banjir dan Angin Kencang

Berdasarkan tingkat risiko ancaman dan tingkat risiko kerentanan dibandingkan dengan tingkat kapasitas, maka didapat skor 6,42 yang artinya tingkat risiko bencana dari banjir dan angin di Desa dadap tergolong tinggi. Adapun analisis tingkat ancaman, kerentanan dan kapasitas sebagai berikut:

a.       Analisis Ancaman

Tingkat ancaman bencana banjir dan angin kencang  di Desa dadap tergolong tinggi (Skor 2,83)

·            Probabilitas masih tinggi, mengingat hal ini terjadi hampir setiap tahun pada musim penghujan. Penyebabnya adalah hutan yang gundul, meluapnya air sungai, pendangkalan sungai, dan wilayah Desa Dadap yang berada di dataran rendah dan pesisir, selalu mendapatkan banjir kiriman dari wilayah yang lebih tinggi.

·            Frekuensi terjadinya bencana banjir dan angin kencanghampir setiap tahun pada puncak musim penghujan, dengan intensitas tergolong tinggi.

·            Dampak dan Luasan dampak: merusak lahan pertanian, pengikisan bantaran sungai, mengenangi rumah warga, tercemarnya sumber air bersih, kegiatan belajar mengajar di sekolah terhambat, pohon kelapa dan pisang tumbang, rusaknya infrastruktur jalan dan jembatan, gagal panen padi, dan nelayan tidak bisa melaut

·            Kerugian yang ditaksir akibat dari bencana banjir dan angin kencang di Desa Dadap adalah Rp 15.215.500.000,- dengan rincian: merusak lahan pertanian 42 Ha = Rp 1.260.000.000, pengikisan bantaran sungai 2100 M = Rp 7.875.000.000, mengenangi rumah warga 210 unit = Rp 283.500.000, pemakaman umum hanyut/rusak 10 are = Rp 100.000.000, tercemarnya sumber air bersih 175 unit sumur gali = Rp 525.000.000, 20 pohon kelapa tumbang = Rp 20.000.000,  2000 pohon pisang rusak = Rp 100.000.000, rusaknya infrastruktur jalan 4 KM = Rp 2.000.000.000,rusaknya 1 unit jembatan = Rp 1.500.000.000, gagal panen padi 252 Ton = Rp 1.260.000.000, 100 nelayan tidak bisa melaut selama 2 bulan = Rp 300.000.000.

 

b.      Analisis Kerentanan

Tingkat kerentanan bencana banjir dan angin kencang  di Desa dadap tergolong tinggi (Skor 2,77). Beberapa faktor yang mengakibatkan Desa Dadap sangat rentan terhadap bencana banjir dan angin kencang adalah:

Fisik

·               Saluran irigasi sebagian besar masih belum permanen

·               penyempitan daearh aliran sungai sehingga air sering meluap

·               pendangkalan daerah aliran sungai

·               tidak ada tanggul

·               jalur evakuasi belum ada

Sosial

·         Tingkat gotong royong masih tinggi dalam pembersihan material banjir

·         Belum ada TSBD

·         Belum ada perdes yang mengatur tentang kebencanaan

·         sosialisasi dan penyuluhan tentang kebencanaan masih sangat minim

Sumber Daya Alam

·         Kondisi hutan yang gundul

·         Kondisi Tanah yang tidak bisa menyerap air dengan baik

·         posisi desa Dasap yang berada di dataran rendah dan langsung berbatasan dengan pesisir pantai

Ekonomi

·         Kebiasaan lumbung pangan sudah tidak ada lagi

·         sudah ada kelompok tani, namun kegiatan usahanya masih belum ada

·         BUMDes sudah ada namun belum berjalan

·         Kelompok usaha Bersama belum ada

·         Akses permodalan untuk masyarakat masih sulit

·         belum ada difersivikasi usaha selain pertanian dan nelayan

 

c.       Analisis Kapasitas

Tingkat kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana banjir dan angin kencang  di Desa dadap tergolong rendah (Skor 1,22). Beberapa faktor yang mengakibatkan Desa Dadap memiliki kapasitas yang rendah dalam menghadapi bencana banjir dan angin kencang adalah:

Fisik

·         Masyarakat belum mampu secara swadaya membuat saluran irigasi secara permanen

·         Masyarakat belum mampu secara swadaya melakukan normalisasi daerah aliran sungai yang mengalami penyempitan dan pendangkalan

·         Masyarakat belum mampu secara swadaya membuat tanggul

·         Masyarakat belum mampu secara swadaya membuat jalur evakuasi

Sosial

·         Tingkat gotong royong masih tinggi dalam pembersihan material banjir

·         Masyarakat belum membentuk TSBD

·         Belum ada perdes yang mengatur tentang kebencanaan

·         Sosialisasi dan penyuluhan tentang kebencanaan kepada masyarakat masih sangat minim

Sumber Daya Alam

·         Kondisi hutan yang gundul

·         Kondisi tanah yang tidak bisa menyerap air dengan baik

·         Posisi Desa Dadap yang berada di dataran rendah dan langsung berbatasan dengan pesisir pantai

Ekonomi

·         Kebiasaan lumbung pangan di masyarakat sudah tidak ada lagi

·         Masyarakat sudah membentuk kelompok tani, namun kegiatan usahanya masih belum ada

·         Pemdes sudah membentuk Bumdes, namun kegiatannya belum berjalan

·         Masyarakat belum membentuk kelompok usaha bersama

·         Akses permodalan untuk masyarakat masih sulit

·         Belum ada difersivikasi usaha yang dilakukan masyarakat selain bidang pertanian dan nelayan

 

d.      Upaya-upaya yang sudah dilakukan masyarakat

·         Gotong royong melakukan pembersihan saluran irigasi, dan rumah yang terdampak banjir

·         Pembuatan jalan dan jembatan darurat dari kayu

·         Upaya perbaikan lahan secara mandiri/swadaya

 

B.            Bencana Kekeringan

Berdasarkan tingkat risiko ancaman dan tingkat risiko kerentanan dibandingkan dengan tingkat kapasitas, maka didapat skor 3,36 yang artinya tingkat risiko bencana kekeringan di Desa dadap tergolong sedang. Adapun analisis tingkat ancaman, kerentanan dan kapasitas sebagai berikut:

a.          Analisis Ancaman

Tingkat ancaman bencana banjir dan angin kencang  di Desa dadap tergolong sedang (Skor 2,7)

·            Probabilitas/Kemungkinan terjadinya kekeringan di Desa Dadap masih bisa terjadi, Penyebabnya curah hujan yang sedikit, yakni sekitar 3-4 bulan dalam setahun.

·            Frekuensi terjadinya kekeringan mulai dari bulan mei sampai november, dengan intensitas tergolong tinggi.

·            Gagal panen padi dan jagung, debit air berkurang, dan  transport pakan ternak meningkat tinggi.

·            kerugian yang ditaksir akibat Kekeringan ini adalah Rp 4.187.500.000,- dengan rincian: gagal panen padi 90 Ton = Rp 450.000.000, dan gagal panen jagung 350 Ton = Rp 350.000.000, debit air untuk irigasi berkurang 150 Ha = Rp 37.500.000, dan  transport pakan ternak meningkat tinggi untuk 200 KK = Rp 3.000.000.000

 

b.         Analisis Kerentanan

Tingkat kerentanan bencana kekeringan  di Desa dadap tergolong tinggi (Skor 2,22). Beberapa faktor yang mengakibatkan Desa Dadap sangat rentan terhadap kekeringan adalah:

Fisik

·            Sudah ada 12 unit sumur bor namun masyarakat merasa belum cukup untuk keperluan irigasi

·            hanya ada satu unit embung di Desa Dadap

·            Ada Bak penampung air namun penggunaanya belum maksimal

Sosial

·            Tidak ada konflik sosial yang timbul saat terjadi kekeringan

·            Sudah ada awig-awig yang mengatur tentang perairan di Desa Dadap

·            Belum ada TSBD

·            Masyarakat belum mampu membuat sumur bor secara swadaya

·            Sosialisasi dan penyuluhan tentang perairan sudah ada

 

Sumber Daya Alam

·            terdapat 5 mata air kecil di Desa Dadap

·            Musim kemarau cukup panjang mulai dari maret - november

Ekonomi

·            Sudah ada kelompok tani, namun kegiatan usahanya masih belum ada

·            Tidak ada kebiasaan lumbung pangan di masyarakat

·            Kelompok usaha bersama belum ada

·            Akses Permodalan untuk masyarakat masih sulit

·            BUMDes sudah ada namun belum berjalan

 

c.          Analisis Kapasitas

Tingkat kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana kekeringan  di Desa Dadap tergolong rendah (Skor 1,22). Beberapa faktor yang mengakibatkan Desa Dadap memiliki kapasitas yang rendah dalam menghadapi bencana kekeringan adalah:

Fisik

·            Sudah ada 12 unit sumur bor namun masyarakat merasa belum cukup untuk keperluan irigasi

·            Masyarakat belum mampu mengadakan embung baru selain satu unit embung  yang sudah ada di Desa Dadap

·            Penggunaan  bak penampung air oleh masyarakat desa belum maksimal

Sosial

·            Tidak ada konflik sosial yang timbul saat terjadi kekeringan

·            Sudah ada awig-awig yang mengatur tentang perairan di Desa Dadap

·            Belum ada TSBD

·            Masyarakat belum mampu membuat sumur bor secara swadaya

·            Sosialisasi dan penyuluhan tentang perairan sudah ada

 

 

Sumber Daya Alam

·            terdapat 5 mata air kecil di Desa Dadap

·            Musim kemarau cukup panjang mulai dari maret - november

Ekonomi

·            Sudah ada kelompok tani, namun kegiatan usahanya masih belum ada

·            Tidak ada kebiasaan lumbung pangan di masyarakat

·            Kelompok usaha bersama belum dibentuk

·            Akses Permodalan untuk masyarakat masih sulit

·            BUMDes sudah ada namun belum berjalan

 

d.               Upaya-upaya yang sudah dilakukan masyarakat

·            Pengaturan penyaluran air bersih dan irigasi

·            Mencari pakan ternak ke desa lain

 

C.         Bencana Gangguan/Serangan Hama

Berdasarkan tingkat risiko ancaman dan tingkat risiko kerentanan dibandingkan dengan tingkat kapasitas, maka didapat skor 5,14 yang artinya tingkat risiko bencana gangguan hama di Desa Dadap tergolong sedang. Adapun analisis tingkat ancaman, kerentanan dan kapasitas sebagai berikut:

a.       Analisis Ancaman

Tingkat ancaman bencana gangguan hama di Desa dadap tergolong tinggi (Skor 2,62)

·               Probabilitas terjadinya gangguan hama di Desa dadap masih tinggi. Penyebab terjadinya gangguan hama adalah pola tanam yang masih kurang baik, pengolahan lahan yang kurang baik, penggunaan obat pembasmi hama masih minim, cuaca ekstrim, dan minimnya penyuluhan tentang hama tanaman.

·               Frekuensi terjadi setiap tahun pada bulan 3-4 pada musim tanam ke-2, dengan intensitas tergolong tinggi.

·               Dampak dan luasan dampak akibat gangguan hama ini adalah berkurangnya hasil panen padi hingga 780 ton.

·               Kerugian yang ditaksir akibat gangguan hama ini adalah Rp Rp 3.900.000.000, dengan rincian: berkurangnya hasil panen padi 780 Ton = Rp 3.900.000.000.

 

b.      Analisis Kerentanan

Tingkat kerentanan bencana gangguan hama  di Desa Dadap tergolong tinggi (Skor 2,65). Beberapa faktor yang mengakibatkan Desa Dadap sangat rentan terhadap bencana gangguan hama adalah:

Fisik

·               Tidak ada jaring pelindung tanaman padi dari serangan hama burung

Sosial

·               Belum pernah ada sosialisasi atau penyuluhan tentang serangan hama pada tanaman

·               cara-cara tradisional dalam mengusir hama seperti menggunakan "mantra" dalam mengusir hama masih sering

Sumber Daya Alam

·               Cuaca yang ekstrim

Ekonomi

·               Sudah ada kelompok tani, namun kegiatan usahanya masih belum ada

·               Tidak ada kebiasaan lumbung pangan di masyarakat

·               Kelompok usaha bersama belum ada

·               Akses Permodalan untuk masyarakat masih sulit

·               BUMDes sudah ada namun belum berjalan

 

c.       Analisis Kapasitas

Tingkat kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana gangguan hama di Desa Dadap tergolong rendah (Skor 1,35). Beberapa faktor yang mengakibatkan Desa Dadap memiliki kapasitas yang rendah dalam menghadapi bencana gangguan hama adalah:

Fisik

·               Tidak ada jaring pelindung tanaman padi dari serangan hama burung

Sosial

·               Belum pernah ada sosialisasi atau penyuluhan tentang serangan hama pada tanaman

·               cara-cara tradisional dalam mengusir hama seperti menggunakan "mantra" dalam mengusir hama masih sering

Sumber Daya Alam

·               Cuaca yang ekstrim

Ekonomi

·               Sudah ada kelompok tani, namun kegiatan usahanya masih belum ada

·               Tidak ada kebiasaan lumbung pangan di masyarakat

·               Kelompok usaha bersama belum dibentuk

·               Masyarakat masih sulit dalam mengakses modal

·               BUMDes sudah ada namun belum bisa dimanfaatkan oleh masayarakat

 

d.         Upaya-upaya yang sudah dilakukan masyarakat

·               masyarakat melakukan pembasmian hama

 


BAB V

PENUTUP

Kesimpulan

Dari hasil kajian yang telah dilakukana di Desa Dadap yang meliputi 3 jenis kebencanaan maka dapat disimpulkan beberpa hal antara lain:

·         Bencana banjir masih menjadi ancaman bagi masyarakat Desa Dadap mengingat letak georafis Desa Dadap dilewati oleh beberpa buah sungai yang dibagian hulu. Hulu dari  sungai tersebut merupakan daerah tangkapan air pada musim hujan Pada saat terjadi hujan lebat, air hujan akan terkumpul dihulu dan mengalir deras ke sungai tersebut.

·         Sedimentasi yang terjadi di daerah hilir telah menutup aliran banjir untuk sampai ke laut. Akibatnya, pada saat terjadi banjir, aliran air terpecah dan menyebar sehingga menggenangi lahan-lahan pertanian dan merusak tanaman yang ada di dalamnya.

·         Belum ada upaya yang dilakukan baik oleh masyarakat maupun pemerintah untuk meningkatkan resapan air di daerah hulu dan mengendalikan aliran banjir di daerah hilir agar banjir bisa langsung ke laut sehingga tidak menimbulkan kerusakan areal pertanian, misalnya dengan cara melakukan pengerukan/normalisasi sungai sampai tembus ke laut.

·         Bencana berupa kekeringan terjadi setiap tahunnya mengingat bulan hujan terjadi sekitar 3 sampai 4 bulan dengan daerah yang miring dan tanah yang poros sehingga tidak memungkinkan untuk air mengendap lama sehingga terjadi kekeringan untuk itu upaya yang akan dilakukan adalah lebih banyak ke arah konservasi dan reboisasi. Dengan demikian diharapakan akan terjadi kelembaban dan munculnya mata air-mata air kecil yang bisa dimamfaatkan oleh masyarakat.

·         Belum ada upaya-upaya atau penerapan teknologi yang dilakukan oleh masyarakat untuk mengatasi kekurangan air guna mendukung pengembangan pertanian, membuat bak penampung air hujan, sistem irigasi tetes, dll. Teknologi yang telah diterapkan adalah pembuatan perpipaan untuk air bersih yang pengelolaannya masih belum maksimal.

·         Hama dan penyakit Tanaman menjadi hal yang perlu diwaspadai mengingat hal ini mengancam terhadap kecukupan pangan bagi masyarakat sehingga perlu dilakukan pola tanam terpadu dan pemberantasan hama secara terpadu pula.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

L A M P I R A N

 


 


Lampiran  1  : Bagan Alur Sejarah Bencana Desa Dadap

 

Analisis Alur sejarah kebencanaan

Tahun Kejadian

Jenis Bencana

Intensitas

Frekuensi

Dampak

Respon yang dilakukan masyarakat

skala prioritas

2017

Banjir dan Angin Kencang

Intensitas tergolong tinggi

Terjadi setiap tahun pada puncak musim penghujan

merusak lahan pertanian, pengikisan bantaran sungai, mengenangi rumah warga, tercemarnya sumber air bersih, kegiatan belajar mengajar di sekolah terhambat, pohon kelapa dan pisang tumbang, rusaknya infrastruktur jalan dan jembatan, gagal panen padi, nelayan tidak bisa melaut

gotong royong pembersihan saluran irigasi,  dan rumah yang terdampak, pembuatan jalan dan jembatan darurat dari kayu, upaya perbaikan lahan secara mandiri

1

2017

Kekeringan

Intensitas tergolong tinggi

terjadi setiap tahun mulai bulan 5 - 11

gagal panen padi dan jagung, debit air berkurang, dan  transport pakan ternak meningkat tinggi

pengaturan penyaluran air bersih dan irigasi, mencari pakan ternak ke desa lain

2

2017

Wabah Penyakit (muntaber dan malaria)

Intensitas tergolong sedang

terjadi setiap tahun pada pertengahan musim hujan

warga terkena penyakit malaria dan muntaber

melaporkan  ke dinas kesehatan, gotong royong melakukan pembersihan lingkungan, 

5

2017

Hama dan Penyakit Tanaman

Intensitas tergolong tinggi

terjadi setiap tahun antara bulan maret dan april

berkurangnya hasil pertanian

masyarakat melakukan pembasmian hama

3

2017

Penyakit pada ternak

intensitas tergolong tinggi

terjadi setiap tahun pada bulan januarai sampai februari

banyak hewan ternak yang mati

pelaporan ke dinas pertanian

4


A.    Bencana Banjir dan Angin Kencang

Analisis Ancaman

Jenis Ancaman

Identifikasi Ancaman

skor

Skor Rata-rata

Aspek penilaian

Kondisi wilayah

Banjir dan Angin Kencang

Probabilitas dan Penyebab

Probabilitas masih tinggi, mengingat hal ini terjadi hampir setiap tahun pada musim penghujan

3

3

penyebabnya adalah hutan yang gundul

3

meluapnya air sungai

3

pendangkalan sungai

3

wilayah Desa Dadap yang berada di dataran rendah dan pesisir, selalu mendapatkan banjir kiriman dari wilayah yang lebih tinggi

3

Frekuensi dan Intensitas

Terjadi setiap tahun pada puncak musim penghujan

3

3

Intensitas tergolong tinggi

3

Dampak dan Luasan dampak

Kerusakan lahan

3

2,33

pengikisan bantaran sungai

2

menggenangi rumah warga

2

tercemarnya air bersih warga

2

kegiatan pendidikan di sekolah terhambat

1

Pohon pisang dan kelapa banyak yang tumbang

2

rusaknya infrastruktur jalan dan jembatan

3

gagal panen padi

3

Nelayan tidak bisa melaut

3

Kerugian

Total taksir kerugian akibat bencana banjir dan angin ini adalah Rp 15.215.500.000,- dengan rincian:

3

3

merusak lahan pertanian 42 Ha = Rp 1.260.000.000, pengikisan bantaran sungai 2100 M = Rp 7.875.000.000, mengenangi rumah warga 210 unit = Rp 283.500.000, pemakaman umum hanyut/rusak 10 are = Rp 100.000.000, tercemarnya sumber air bersih 175 unit sumur gali = Rp 525.000.000, 20 pohon kelapa tumbang = Rp 20.000.000,  2000 pohon pisang rusak = Rp 100.000.000, rusaknya infrastruktur jalan 4 KM = Rp 2.000.000.000,rusaknya 1 unit jembatan = Rp 1.500.000.000, gagal panen padi 252 Ton = Rp 1.260.000.000, 100 nelayan tidak bisa melaut selama 2 bulan = Rp 300.000.000

 

 

RATA-RATA

 

2,83

 

 

TINGKAT ANCAMAN

 

 

 

Analisis Kerentanan

Jenis Ancaman

Identifikasi Kerentanan

Skor

Skor Rata-rata

Aspek penilaian

Kondisi wilayah

Banjir dan Angin

Aspek fisik

Saluran irigasi sebagian besar masih belum permanen

3

3

penyempitan daearh aliran sungai sehingga air sering meluap

3

pendangkalan daerah aliran sungai

3

tidak ada tanggul

3

jalur evakuasi belum ada

3

Aspek sosial

Tingkat gotong royong masih tinggi dalam pembersihan material banjir

3

2,75

Belum ada TSBD

3

Belum ada perdes yang mengatur tentang kebencanaan

3

sosialisasi dan penyuluhan tentang kebencanaan masih sangat minim

2

Aspek Sumber daya Alam

Kondisi hutan yang gundul

3

2,67

Kondisi Tanah yang tidak bisa menyerap air dengan baik

2

posisi desa Dasap yang berada di dataran rendah dan langsung berbatasan dengan pesisir pantai

3

Aspek ekonomi

Kebiasaan lumbung pangan sudah tidak ada lagi

3

2,67

sudah ada kelompok tani, namun kegiatan usahanya masih belum ada

2

BUMDes sudah ada namun belum berjalan

2

Kelompok usaha Bersama belum ada

3

Akses permodalan untuk masyarakat masih sulit

3

belum ada difersivikasi usaha selain pertanian dan nelayan

3

 

Rata2

 

2,77

 

Tingkat kerentanan :  

 

 

 

Analisis Kapasitas

Jenis Ancaman

Identifikasi Kapasitas

Skor

Skor Rata-rata

Aspek penilaian

Kondisi wilayah

Banjir dan Angin Kencang

Aspek fisik

Masyarakat belum mampu secara swadaya membuat saluran irigasi secara permanen

1

1

Masyarakat belum mampu secara swadaya melakukan normalisasi daerah aliran sungai yang mengalami penyempitan dan pendangkalan

1

Masyarakat belum mampu secara swadaya membuat tanggul

1

Masyarakat belum mampu secara swadaya membuat jalur evakuasi

1

 

 

Aspek sosial

Tingkat gotong royong masih tinggi dalam pembersihan material banjir

1

1,25

Masyarakat dan Pemdes belum membentuk TSBD

1

Belum ada perdes yang mengatur tentang kebencanaan

1

sosialisasi dan penyuluhan tentang kebencanaan masih sangat minim

2

 

Kondisi hutan yang gundul

1

1,33

Aspek Sumber daya Alam

Kondisi Tanah yang tidak bisa menyerap air dengan baik

2

posisi desa Dasap yang berada di dataran rendah dan langsung berbatasan dengan pesisir pantai

1

Aspek ekonomi

Kebiasaa lumbung pangan sudah tidak ada lagi

1

1,33

Masyarakat sudah membentuk kelompok tani, namun kegiatan usahanya masih belum ada

2

BUMDes sudah ada namun belum berjalan

2

Masyarakat belum membentuk kelompok usaha bersama

1

Akses permodalan untuk masyarakat masih sulit

1

belum ada difersivikasi usaha yang dilakukan oleh masyarakat selain pertanian dan nelayan

1

 

 

 

Rata2

 

1,22

 

Tingkat kerentanan :  

 

 

 

 

A.    Kekeringan

 

Analisis Ancaman

 

 

 

Jenis Ancaman

Identifikasi Ancaman

skor

Skor Rata-rata

Aspek penilaian

Kondisi wilayah

Kekeringan

Probabilitas dan Penyebab

Kemungkinan terjadinya kekeringan di Desa Dadap masih bisa terjadi

2

2,5

Penyebabnya curah hujan yang sedikit, yakni sekitar 3-4 bulan dalam setahun

3

 

 

 

Frekuensi dan Intensitas

Frekuensi terjadinya kekeringan mulai dari bulan mei sampai november

3

3

Intensitas tergolong tinggi

3

 

 

 

Dampak dan Luasan dampak

gagal panen padi dan jagung

3

2,33

Debit air untuk irigasi berkurang

2

pakan ternak sulit didapatkan

2

 

 

Kerugian

Total taksir kerugian akibat Kekeringan ini adalah Rp 4.187.500.000,- dengan rincian:

3

3

gagal panen padi 90 Ton = Rp 450.000.000, dan gagal panen jagung 350 Ton = Rp 350.000.000, debit air untuk irigasi berkurang 150 Ha = Rp 37.500.000, dan  transport pakan ternak meningkat tinggi untuk 200 KK = Rp 3.000.000.000

RATA-RATA

 

2,7

TINGKAT ANCAMAN

 

 

 

 


 

Analisis Kerentanan

Jenis Ancaman

Identifikasi Kerentanan

Skor

Skor Rata-rata

Aspek penilaian

Kondisi wilayah

Kekeringan

Aspek fisik

Sudah ada 12 unit sumur bor namun masyarakat merasa belum cukup

2

2

hanya ada satu unit embung di Desa Dadap

2

Ada Bak penampung air namun penggunaanya belum maksimal

2

Aspek sosial

Tidak ada konflik sosial yang timbul saat terjadi kekeringan

1

1,8

sudah ada awig-awig yang mengatur tentang perairan di Desa Dadap

1

Belum ada TSBD

3

Masyarakat belum mampu membuat sumur bor secara swadaya

3

sosialisasi dan penyuluhan tentang perairan sudah ada

1

Aspek Sumber daya Alam

terdapat 5 mata air kecil di Desa Dadap

2

2,5

Musim kemarau cukup panjang mulai dari maret - november

3

Aspek Ekonomi

sudah ada kelompok tani, namun kegiatan usahanya masih belum ada

2

2,6

Tidak ada kebiasaan lumbung pangan di masyarakat

3

Kelompok usaha bersama belum ada

3

Akses Permodalan untuk masyarakat masih sulit

3

BUMDes sudah ada namun belum berjalan

2

 

Rata2

 

2,22

 

Tingkat kerentanan :  

 

 


 

Analisis Kapasitas

Jenis Ancaman

Identifikasi Kapasitas

Skor

Skor Rata-rata

Aspek penilaian

Kondisi wilayah

Kekeringan

Aspek fisik

Sudah ada 12 unit sumur bor namun masyarakat merasa belum cukup untuk keperluan irigasi

2

2

Masyarakat belum mampu mengadakan embung baru selain satu unit embung  yang sudah ada di Desa Dadap

2

Penggunaan  bak penampung air oleh masyarakat desa belum maksimal

2

 

 

Aspek sosial

Tidak ada konflik sosial yang timbul saat terjadi kekeringan

3

2,22

sudah ada awig-awig yang mengatur tentang perairan di Desa Dadap

3

Belum ada TSBD

1

Masyarakat belum mampu membuat sumur bor secara swadaya

1

sosialisasi dan penyuluhan tentang perairan sudah ada

3

 

 

 

 

Aspek Sumber daya Alam

Terdapat 5 mata air kecil di Desa Dadap

2

1,5

Musim kemarau cukup panjang mulai dari maret - november

1

 

 

Aspek Ekonomi

sudah ada kelompok tani, namun kegiatan usahanya masih belum ada

2

1,4

Tidak ada kebiasaan lumbung pangan di masyarakat

1

Belum dibentuk kelompok usaha bersama

1

Akses permodalan untuk masyarakat masih sulit

1

BUMDes sudah ada namun belum berjalan

2

 

Rata2

 

1,78

 

Tingkat kerentanan :  

 

 

 


 

B.    Gangguan Hama

Analisis Ancaman

Jenis Ancaman

Identifikasi Ancaman

skor

Skor Rata-rata

Aspek penilaian

Kondisi wilayah

Hama dan Penyakit Tanaman

Probabilitas dan Penyebab

Probabilitas terjadinya gangguan hama di Desa dadap masih tinggi

3

2,5

Penyebab terjadinya gangguan hama adalah pola tanam yang masih kurang baik

2

pengolahan lahan yang kurang baik

2

penggunaan obat pembasmi hama masih minim

2

minimnya penyuluhan tentang hama tanaman

3

Cuaca ekstrim

3

Frekuensi dan Intensitas

Frekuensi terjadi setiap tahun pada bulan 3-4 pada musim tanam ke-2

3

3

Intenistas tergolong tinggi

3

 

 

Dampak dan Luasan Dampak

Berkurangnya hasil pertanian

3

2

Masyarakat terkena penyakit kulit

1

 

 

 

 

Kerugian

Total taksir kerugian akibat dari gangguan hama adalah Rp 3.900.000.000,- dengan rincian:

3

3

Berkurangnya hasil panen padi 780 Ton = Rp 3.900.000.000

 

 

RATA-RATA

 

2,62

 

 

TINGKAT ANCAMAN

 

 

 


 

Analisis Kerentanan

Jenis Ancaman

Identifikasi Kerentanan

Skor

Skor Rata-rata

Aspek penilaian

Kondisi wilayah

Hama dan Penyakit Tanaman

Aspek Fisik

Tidak ada jaring pelindung tanaman padi dari serangan hama burung

3

3

 

 

Aspek sosial

Belum pernah ada sosialisasi atau penyuluhan tentang serangan hama pada tanaman

2

2

cara-cara tradisional dalam mengusir hama seperti menggunakan "mantra" dalam mengusir hama masih sering dilakukan

2

Aspek Sumber daya Alam

Cuaca yang ekstrim

3

3

 

 

 

Aspek ekonomi

sudah ada kelompok tani, namun kegiatan usahanya masih belum ada

2

2,6

Tidak ada kebiasaan lumbung pangan di masyarakat

3

Kelompok usaha bersama belum ada

3

Akses Permodalan untuk masyarakat masih sulit

3

BUMDes sudah ada namun belum berjalan

2

 

Rata2

 

2,65

 

Tingkat kerentanan :  

 

 

 

Analisis Kapasitas

Jenis Ancaman

Identifikasi Kapasitas

Skor

Skor Rata-rata

Aspek penilaian

Kondisi wilayah

Hama dan Penyakit Tanaman

Aspek Fisik

Tidak ada jaring pelindung tanaman padi dari serangan hama burung

1

1

 

 

Aspek sosial

Masyarakat belum pernah mendapatkan sosialisasi atau penyuluhan tentang serangan hama pada tanaman

2

2

Masyarakat masih menggunakan cara-cara tradisional dalam mengusir hama seperti menggunakan "mantra".

2

 

 

Aspek Sumber daya Alam

Cuaca yang ekstrim

1

1

 

 

Aspek ekonomi

sudah ada kelompok tani, namun kegiatan usahanya masih belum ada

2

1,4

Tidak ada kebiasaan lumbung pangan di masyarakat

1

Kelompok usaha bersama belum dibentuk

1

Masyarakat masih sulit dalam mengakses modal

1

BUMDes sudah ada namun belum bisa dimanfaatkan oleh masayarakat

2

 

 

 

Rata2

 

1,35

 

Tingkat kerentanan :  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Sintesa hasil kajian

Jenis Bencana

Tingkat Risiko Bencana

Tingkat Ancaman

Tingkat Kerentanan

Tingkat Kapasitas

Skor

Penjelasan

Skor

Penjelasan

Skor

Penjelasan

Skor

Penjelasan

Banjir dan Angin

6,42

Berdasarkan tingkat risiko ancaman dan tingkat risiko kerentanan dibandingkan dengan tingkat kapasitas, maka didapat skor 6,42 yang artinya tingkat risiko bencana dari banjir dan angin tergolong tinggi.

2,83

Probabilitas terjadinya banjir dan angin masih tinggi, mengingat hal ini terjadi hampir setiap tahun pada musim penghujan. Penyebabnya adalah hutan yang gundul, meluapnya air sungai, pendangkalan sungai, wilayah Desa Dadap yang berada di dataran rendah dan pesisir, selalu mendapatkan banjir kiriman dari wilayah yang lebih tinggi.

2,77

Dari segi aspek fisik: Saluran irigasi sebagian besar masih belum permanen, penyempitan daerah aliran sungai sehingga air sering meluap, pendangkalan daerah aliran sungai,  dan tidak ada tanggul, dan jalur evakuasi belum ada. Kemudian dari segi aspek sosial: Tingkat gotong royong masih tinggi dalam pembersihan material banjir, belum ada TSBD, belum ada perdes yang mengatur tentang kebencanaan, sosialisasi dan penyuluhan tentang kebencanaan masih sangat minim. Selanjutnya dari segi aspek sumber daya alam: kondisi hutan yang gundul, kondisi tanah yang tidak bisa menyerap air dengan baik, dan posisi desa Dasap yang berada di dataran rendah dan langsung berbatasan dengan pesisir pantai. Terakhir dari segi aspek ekonomi: Kebiasaan lumbung pangan sudah tidak ada lagi, sudah ada kelompok tani, namun kegiatan usahanya masih belum ada, BUMDes sudah ada namun belum berjalan, kelompok usaha Bersama belum ada, akses permodalan untuk masyarakat masih sulit, dan belum ada difersivikasi usaha selain pertanian dan nelayan.

1,22

Dari aspek segi fisik: Masyarakat belum mampu secara swadaya membuat saluran irigasi secara permanen, Masyarakat belum mampu secara swadaya melakukan normalisasi daerah aliran sungai yang mengalami penyempitan dan pendangkalan, pendangkalan daerah aliran sungai,  dan tidak ada tanggul, danMasyarakat belum mampu secara swadaya membuat jalur evakuasi. Kemudian dari segi aspek sosial: Tingkat gotong royong masih tinggi dalam pembersihan material banjir, belum ada TSBD, belum ada perdes yang mengatur tentang kebencanaan, sosialisasi dan penyuluhan tentang kebencanaan masih sangat minim. Selanjutnya dari segi aspek sumber daya alam: kondisi hutan yang gundul, kondisi tanah yang tidak bisa menyerap air dengan baik, dan posisi desa Dasap yang berada di dataran rendah dan langsung berbatasan dengan pesisir pantai. Terakhir dari segi aspek ekonomi: Kebiasaan lumbung pangan sudah tidak ada lagi, sudah ada kelompok tani, namun kegiatan usahanya masih belum ada, BUMDes sudah ada namun belum berjalan, kelompok usaha Bersama belum ada, akses permodalan untuk masyarakat masih sulit, dan belum ada difersivikasi usaha selain pertanian dan nelayan.

Kekeringan

3,36

Berdasarkan tingkat risiko ancaman dan tingkat risiko kerentanan dibandingkan dengan tingkat kapasitas, maka didapat skor 3,36 yang artinya tingkat risiko bencana dari kekeringan tergolong sedang.

2,7

Kemungkinan terjadinya kekeringan di Desa Dadap masih bisa terjadi. Penyebabnya curah hujan yang sedikit, yakni sekitar 3-4 bulan dalam setahun.

2,22

Dari segi aspek fisik: sudah ada 12 unit sumur bor namun masyarakat merasa belum cukup, hanya ada satu unit embung di Desa Dadap, dan ada bak penampung air namun penggunaanya belum maksimal. Kemudian dari segi aspek sosial: tidak ada konflik sosial yang timbul saat terjadi kekeringan, sudah ada awig-awig yang mengatur tentang perairan di Desa Dadap, belum ada TSBD, masyarakat belum mampu membuat sumur bor secara swadaya, serta sosialisasi dan penyuluhan tentang perairan sudah ada. Selanjutnya dari segi aspek sumber daya alam: terdapat 5 mata air kecil di Desa Dadap dan Musim kemarau cukup panjang mulai dari maret - november. Terakhir dari segi aspek ekonomi: sudah ada kelompok tani, namun kegiatan usahanya masih belum ada, tidak ada kebiasaan lumbung pangan di masyarakat, kelompok usaha bersama belum ada, akses permodalan untuk masyarakat masih sulit, dan BUMDes sudah ada namun belum berjalan.

1,78

Dari segi aspek fisik: sudah ada 12 unit sumur bor namun masyarakat merasa belum cukup, hanya ada satu unit embung di Desa Dadap, dan ada bak penampung air namun penggunaanya belum maksimal. Kemudian dari segi aspek sosial: tidak ada konflik sosial yang timbul saat terjadi kekeringan, sudah ada awig-awig yang mengatur tentang perairan di Desa Dadap, belum ada TSBD, masyarakat belum mampu membuat sumur bor secara swadaya, serta sosialisasi dan penyuluhan tentang perairan sudah ada. Selanjutnya dari segi aspek sumber daya alam: terdapat 5 mata air kecil di Desa Dadap dan Musim kemarau cukup panjang mulai dari maret - november. Terakhir dari segi aspek ekonomi: sudah ada kelompok tani, namun kegiatan usahanya masih belum ada, tidak ada kebiasaan lumbung pangan di masyarakat, kelompok usaha bersama belum ada, akses permodalan untuk masyarakat masih sulit, dan BUMDes sudah ada namun belum berjalan.

Hama dan Penyakit Tanaman

5,14

Berdasarkan tingkat risiko ancaman dan tingkat risiko kerentanan dibandingkan dengan tingkat kapasitas, maka didapat skor 5,14 yang artinya tingkat risiko bencana dari ganngguan hama tergolong sedang.

2,62

Probabilitas terjadinya gangguan hama di Desa dadap masih tinggi. Penyebab terjadinya gangguan hama adalah pola tanam yang masih kurang baik, pengolahan lahan yang kurang baik, penggunaan obat pembasmi hama masih minim, dan minimnya penyuluhan tentang hama tanaman.

2,65

Dari segi aspek fisik: Tidak ada jaring pelindung tanaman padi dari serangan hama burung. Kemudian dari segi aspek sosial: belum pernah ada sosialisasi atau penyuluhan tentang serangan hama pada tanaman dan cara-cara tradisional dalam mengusir hama seperti menggunakan "mantra" dalam mengusir hama masih sering dilakukan. Selanjuntnya dari segi aspek sumber daya alam: cuaca yang ekstrim. Terakhir dari segi aspek ekonomi:  sudah ada kelompok tani, namun kegiatan usahanya masih belum ada, tidak ada kebiasaan lumbung pangan di masyarakat, kelompok usaha bersama belum ada, akses permodalan untuk masyarakat masih sulit, dan BUMDes sudah ada namun belum berjalan.

1,35

Dari segi aspek fisik: Tidak ada jaring pelindung tanaman padi dari serangan hama burung. Kemudian dari segi aspek sosial: belum pernah ada sosialisasi atau penyuluhan tentang serangan hama pada tanaman dan cara-cara tradisional dalam mengusir hama seperti menggunakan "mantra" dalam mengusir hama masih sering dilakukan. Selanjuntnya dari segi aspek sumber daya alam: cuaca yang ekstrim. Terakhir dari segi aspek ekonomi:  sudah ada kelompok tani, namun kegiatan usahanya masih belum ada, tidak ada kebiasaan lumbung pangan di masyarakat, kelompok usaha bersama belum ada, akses permodalan untuk masyarakat masih sulit, dan BUMDes sudah ada namun belum berjalan.

 


 

RENCANA AKSI DESA DADAP KECAMATAN SAMBELIA

Rencana aksi PRB Banjir dan Angin Kencang

No

kegiatan

target

waktu

lokasi

Penangung jawab

Pihak Pendukung

Bentuk Dukungan

1

Pembuatan saluran irigasi permanen

3 Km

bulan 7 - 11, 2018

Dusun Kokok Rajak dan Timburan

Kadus

Pemdes, LPSDM, Instansi terkait

Material dan Pendanaan

2

Normalisasi DAS

2 Km

bulan 7 - 11, 2018

Dusun Kokok Rajak

Kadus

Pemdes, LPSDM, Instansi terkait

Alat Berat

3

Pembuatan tanggul

500 M

bulan 7 - 11, 2018

Dsun tanjong

Kepala Desa

Pemdes, LPSDM, Instansi terkait

Alat Berat

4

Pembentukan TSBD

1

Desember 2017

Kantor Desa

Kepala Desa

Pemdes, LPSDM, BPBD

Fasilitasi

5

Pengintegrasian rencana aksi PRB ke dalam RPJMDes

1

Sep-18

Kantor Desa

Kepala Desa

Pemdes, LPSDM

Fasilitasi

6

Penghijaun di bantaran daerah aliran sungai dan pesisir

2000 bibit

januari - februari 2018

4 Dusun di Desa Dadap

Kadus

Pemdes, LPSDM, Intasnsi terkait

Pengadaan bibit

7

pembuatan jalur evakuasi

1

januari - februari 2018

4 Dusun jalur Desa Dadap

Kepala Desa

Pemdes dan LPSDM

Fasilitasi

8

Penguatan dan Peningkatan kapasitas Kelompok Tani

5 Kelompok

Mei 2018

4 Dusun dan Desa Dadap

Kepala Desa

Pemdes, LPSDM, Instansi terkait

Fasilitasi

 

Rencana aksi PRB KEKERINGAN

No

kegiatan

target

waktu

lokasi

Penangung jawab

Pihak Pendukung

Bentuk Dukungan

1

Pengadaan Sumur Bor

3 unit

Juli - November 2018

Dusun Timburan, Kokok Rajak, dan Dadap

Kepala Desa

Pemdes, LPSDM, Instansi terkait

Alat Berat

2

Konservasi mata air

5 Sumber Mata Air

Juli - November 2018

4 Dusun di Desa Dadap

Kepala Desa

Pemdes, LPSDM, Instansi terkait

Pengadaan TUP dan fasilitasi

3

Normalisasi Embung

1 unit

Juli - November 2018

Dusun dadap

Kepala Desa

Pemdes, LPSDM, Instansi terkait

Alat Berat

4

Pembuatan Bak penampungan air bersih

3 unit (ukuran 10.000 L)

Juli - November 2018

Dusun Tanjong, Timburan dan Kokok Rajak

Kepala Desa

Pemdes, LPSDM, Instansi terkait

Material dan Pendanaan

5

Pembentukan kepengurusan pengelolaan sumur bor

12 kelompok

Januari 2018

4 Dusun di Desa Dadap

Kepala Desa

Pemdes, LPSDM

Fasilitasi

6

Pembentukan kelompok usaha bersama

4 kelompok

Januari 2018

4 Dusun di Desa Dadap

Kepala Desa

Pemdes, LPSDM

Fasilitasi

 


Rencana aksi PRB Hama dan Penyakit Tanaman

No

kegiatan

target

waktu

lokasi

Penangung jawab

Pihak Pendukung

Bentuk Dukungan

1

Penyuluhan tentang serangan hama

1 kali dalam setahun

januari 2018

Kantor Desa

Kepala Desa

Pemdes, LPSDM

Fasilitasi

2

Pelatihan pembuatan pupuk organik

1 kali dalam setahun

juni 2018

Kantor Desa

Kepala Desa

Pemdes, LPSDM

Fasilitasi

3

Penyuluhan tentang pola tanam

2 kali dalam setahun

desember 2018

Kantor Desa

Kepala Desa

Pemdes, LPSDM

Fasilitasi

                                                                            


 

Lampiran 3

SKETSA  LOKASI BENCANA DESA DADAP

 

 


 


ampiran  : 4

Photo Dokumentasi Kajian Resiko Bencana di Desa Dadap Kec. Sambelia Lombok Timur


 


Lampiran daftar Hadir Kegiatan Desa Dadap

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini