HASIL KAJIAN RISIKO BENCANA DI DESA DADAP KECAMATAN SAMBELIA KABUPATEN LOMBOK TIMUR
LAPORAN
HASIL
KAJIAN RISIKO BENCANA
DI DESA DADAP
KECAMATAN SAMBELIA
KABUPATEN
LOMBOK TIMUR
Difasilitasi oleh:
TIM BPBD LOMBOK TIMUR DAN TIM LPSDM
Kajian
ini dapat terlaksana atas kerjasama antara:
Pemerintah
Desa Dadap,
Badan Penanggulangan
Bencana Daerah Kab. Lombok Timur,
Lembaga
Pengembangan Sumber Daya Mitra, Lombok Timur
dan World
Neighbors
Kata Pengantar
Kajian Risiko Bencana telah dilakukan
di Desa Dadap Kecamatan Sambelia Kabupaten Lombik Timur pada Tgl. 10 – 11 Nopember
2017.
Kajian ini menggunakan beberapa teknik dan metode,
yaitu: Alur Sejarah Bencana, Kalender
Musim, Pemetaan Lokasi Bencana, Penelusuran Wilayah Lokasi Bencana, dan
Analisis Risiko Bencana. Jumlah peserta dari masyarakat yang hadir dalam
kajian resiko bencana ini 23 orang (20
orang laki-laki dan 3 orang perempuan) yang mewakili masyarakat , serta
tokoh-tokoh masyarakat (tokoh agama, pemuda, dan wanita).
Sebelum kajian dimulai, fasilitator
memberikan pemahaman tentang perubahan iklim dan pengurangan risiko bencana.
Masyarakat diajak berdiskusi tentang factor iklim, pemanasan global, gas rumah
kaca, praktek-praktek masyarakat yang menyebabkan perubahan iklim dan dampak
perubahan iklim. Melalui pemahaman ini masyarakat mudah menemu kenali bencana-bencana
yang dirasakan. Bahkan masyarakat menyadari bahwa bencana yang dirasakan selama
ini sebagian besar disebabkan oleh mereka sendiri.
Mengawali diskusi, fasilitator mengajak
peserta untuk mengkaji mengenai alur Sejarah Bencana
Berdasarkan
diskusi dari Alur Sejarah teridentifikasi 5 jenis bencana penting yang pernah
terjadi di Desa Dadap. Berdasarkan
pemeringkatan yang dilakukan, urutan tingkat pentingnya bencana tersebut untuk
dikaji lebih lanjut adalah: 1) Banjir dan angina kencang, 2) Kekeringan 3) Wabah
penyakit (muntaber dan malaria) 4) Gangguan
hama dan 5) Penyakit pada ternak. Tetapi karena keterbatasan waktu kajian maka
hanya 3 jenis bencana yang dikaji bersama yaitu 1). Banjir dan angina kencang,
2). Kekeringan dan 3). Gangguan hama.
BAB
I
PENDAHULUAN
Latar
Belakang
Pemanasan global yang berdampak pada
perubahan iklim dan cuaca ekstrim telah terjadi dalam beberapa tahun belakangan
ini telah menimbulkan berbagai kebingungan, baik di tingkat masyarakat maupun
pemerintah. Perubahan tersebut telah berdampak pada perubahan musim yang tidak
bisa diprediksi. Bagi masyarakat di Lombok yang mengandalkan sumber mata
pencaharian pada sistem pertanian lahan kering, pergeseran waktu curah hujan
dan intensitas hujan yang tidak menentu telah menyebabkan kegagalan panen
(padi, jagung dan palawija lainnya) di mana-mana. Kegagalan panen tersebut
telah mengancam ketahanan pangan di masyarakat dan juga penurunan sumber
pendapatan petani dari hasil tanaman umur panjang.
Selain telah mengancam, perubahan
iklim dan cuaca ekstrim yang terjadi pada beberapa tahun belakangan ini juga
telah menimbulkan berbagai bencana, antara lain banjir, angin kencang, kemarau
panjang dan longsor yang merusak lahan pertanian, pemukiman, infrastruktur, dan
lain-lain. Bencana-bencana tersebut telah menjadikan masyarakat yang sudah
cukup rentan, menjadi semakin rentan.
Perubahan iklim dan cuaca ekstrim
sebenarnya lebih banyak disebabkan oleh perilaku manusia yang kurang bersahabat
dalam menjaga daya dukung lingkungan. Namun sayangnya, banyak masyarakat yang
tidak memahami secara utuh tentang komponen-komponen iklim, perubahan-perubahan
yang terjadi serta faktor-faktor yang telah menyebabkan perubahan tersebut.
Karena ketidakpahaman tersebut, perilaku yang dikembangkan bahkan masih
mengancam kelestarian lingkungan dan mendorong perubahan iklim yang lebih
besar. Oleh karena itu, dibutuhkan upaya-upaya untuk membangun pemahaman
bersama para pihak tentang iklim, perubahan yang terjadi, dan faktor-faktor
yang menyebabkan terjadinya perubahan tersebut.
Perlu juga dibangun pemahaman bersama
bahwa penanggulangan bencana membutuhkan peran aktif berbagai pihak
(pemerintah, LSM, organisasi masyarakat, dll) secara terpadu dan bersama-sama
untuk melakukan tindakan – baik tindakan mitigasi maupun adaptasi – agar dampak
negatif dari perubahan iklim dan bencana yang terjadi bisa diminimalkan.
Masyarakat perlu mengembangkan
rencana aksi di tingkat desa guna menyikapi perubahan iklim, termasuk
menurunkan risiko dan meningkatkan kapasitas masyarakat jika bencana-bencana
yang diprediksikan benar-benar terjadi. Rencana aksi tersebut perlu
dikomunikasikan secara aktif oleh masyarakat kepada pemerintah, dan pemerintah
wajib merespon kebutuhan masyarakat tersebut. Dengan demikian, dapat
meningkatkan ketahanan masyarakat dari sejak awal dan mencegah dampak yang
lebih besar dari bencana.
Karena itulah dilakukan kajian
perubahan iklim dan bencana yang melibatkan seluruh lapiasan masyarakat
sehingga bisa membangun pemahaman bersama para pihak dalam menyikapi perubahan
iklim dan penanggulangan bencana.
Tujuan
Kajian Perubahan Iklim dan Resiko
Bencana ini bertujuan untuk:
1.
Membangun
pemahaman masyarakat tentang iklim, proses perubahan iklim dan akibat yang
ditimbulkannya.
2.
Mendapatkan
impormasi tentang jenis-jenis bencana yang pernah terjadi di desa selama kurun
waktu sekitar 10 tahun terahir
3.
Melakukan kajian-
kajian terhadap setiap jenis bencana yang pernah terjadi, yang meliputi :
kemungkinan terjadinya lagi bencana tersebut, tingkat ancamannya, tingkat
kerentenannya, serta kapasitas yang dimiliki dalam menghadapi setiap bencana .
4.
Membuat rencana
aksi yang memungkinkan untuk dilaksanakan dalam menghadapi bencana baik secara
swadaya maupun bantuan oleh pemerintah maupun pihak swasta (LSM)
5.
Membangun
komitmen bersama untuk bekerjasama dalam membangun kesiapsiagaan masyarakat dan
pemerintah dalam menghadapi bencana
6.
Masyarakat lebih
siap dalam menghadapi segala kemungkinan yang ditimbulkan akibat terjadinya
bencana
Keluaran
Keluaran yang ingin dicapai dari Kajian ini adalah:
1.
Tersedianya
data/informasi mengenai berbagai jenis bencana yang perlu mendapat perhatian
dari semua pihak.
2.
Diketahui
kemungkinan akan terjadinya bencana, ancaman serta kerawanan yang akan timbul
bila terjadi bencana dan masyarakat mengetahui kemampuan yang dimiliki atau
kapasitasnya dalam menghadapi setiap bencana.
3.
Adanya rencana
aksi yang akan dilakukan oleh masyarakat dalam mempersiapkan diri menghadapi
kemungkinan terjadinya bencana
4.
Adanya kesiapan
masyarakat dalam membuat aturan-aturan dalam menangani bencana
5.
Ada komitmen
bersama untuk membangun kerjasama dalam upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim
dan membangun kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana.
BAB II
PROFIL DESA DADAP
Gambaran Umum
Desa Dadap merupakan salah
satu desa dari 11 (sebelas) desa yang ada di wilayah adminstratif
Kecamatan Sambelia Kabupaten Lombok Timur dengan luas wilayah 3,94 km3, yang berupa tanah pertanian sedangkan
sebagiannya berupa tegalan, pekarangan dan pemukiman penduduk, dengan tofografi
berbukit. Terletak pada ketinggian 10 m/dpl, dengan tofografi berbukit dan bergelombang, serta iklim tropis
yang memiliki 2 (dua) musim yaitu : musim hujan dan musim kemarau. Curah
hujan rata-rata mencapai 692mm/th terjadi
pada bulan Desember sampai Mei dan musim kemarau terjadi pada bulan Juni sampai
November.
Batas wilayah desa Sambelia
Sebelah
Utara berbatasan dengan desa Sugian
Sebelah
Selatan berbatasan dengan desa Labuhan
Pandan
Sebelah
Timur berbatasan dengan Selat Alas
Sebelah Barat berbatasan
dengan desa Bagik Manis
|
Kondisi Geografis |
||
|
No |
Uraian |
Keterangan |
|
1 |
Luas Wilayah |
3,94 km3 |
|
1,61 % |
||
|
2 |
Jarak Dari Kota ibu kota kecamatan |
7 km |
|
3 |
Jarak Dari Kota ibu kota kabupaten |
57 |
|
4 |
Tinggi DPL |
025 M |
|
5 |
Curah hujan |
400 mm/th |
|
6 |
Hari hujan |
100 |
Perangkat Desa
|
Uraian |
Jumlah |
|
Kepala Desa |
1 |
|
Sekretaris Desa |
1 |
|
Perangkat desa |
12 |
|
BPD |
5 |
|
Kepala dusun |
4 |
|
RT |
16 |
Jumlah penduduk di
Desa Dadap berjumlah 2.654 jiwa dengan
902 KK. Mayoritas adalah petani lahan kering yang sangat tergantung pada
curah hujan seperti terlihat pada tabel
dibawah ini :
|
Data
Penduduk |
||
|
No |
Uraian |
Keterangan |
|
A |
Jumlah Penduduk Secara Umum |
|
|
1 |
Jumlah
Penduduk |
2.654 jiwa |
|
2 |
Jumlah
Penduduk Laki-laki |
1.316 jiwa |
|
3 |
Jumlah
Penduduk Perempuan |
1.338 jiwa |
|
4 |
Kepadatan
Penduduk |
674 jiwa/km2 |
|
|
Jumlah
penduduk dispable |
- |
|
5 |
Jumlah KK |
902 KK |
|
|
Jumlah
penduduk penerima jamkesmas/bpjs |
- |
|
6 |
Prasejahtera |
250 KK |
|
|
Sejahtera
1 |
486 KK |
|
|
Sejahtera
2 |
580 KK |
|
|
Sejahtera
3 |
760 KK |
|
|
Sejahtera
3+ |
578 KK |
|
B |
Jumlah
Penduduk Menurut Mata Pencaharian |
|
|
1 |
Petani |
672 |
|
|
Buruh tani |
275 |
|
2 |
Peternak |
- |
|
3 |
Nelayan |
253 |
|
4 |
PNS/Tentara |
1 |
|
5 |
Pensiunan |
-
|
|
6 |
Lainya |
66 |
|
C |
Jumlah
Penduduk Menurut Agama |
|
|
1 |
Islam |
2.654Jiwa |
|
2 |
Katholik |
|
|
3 |
Protestan |
|
|
4 |
Hindu/Budha |
-
|
|
5 |
Marapu |
-
|
Sarana Infrastruktur Umum
|
Kondisi
Sarana Infrastruktur Umum |
|
||
|
No |
Uraian |
Jumlah |
Keterangan |
|
1 |
SD |
1 Unit |
Swasta |
|
2 |
SMP |
1 Unit |
Swasta |
|
3 |
Play group |
1 Unit |
Negeri |
|
1 Unit |
Swasta |
||
|
4 |
Masjid |
5 unit |
Pembangunan Secara swadaya |
|
5 |
Musholla |
11 unit |
Pembangunan Secara swadaya |
|
6 |
PUSTU |
- |
- |
|
7 |
Poskesdes |
1 Unit |
- |
|
8 |
Posyandu |
5 unit |
- |
|
9 |
Kantor
Desa |
1unit |
- |
|
10 |
Kantor Police |
- |
- |
|
11 |
Jalan Desa
jalan aspal |
2,20 Km |
1,50 baik, 0,70 rusak |
|
12 |
Sarana
penerangan listrik |
- |
- |
|
13 |
Bendungan |
- |
- |
|
Kondisi Sumber Daya Manusia |
|
|
|
||||
|
Aspek Indikator |
Jumlah |
|
|||||
|
Pendidikan |
|
Total |
L |
P |
|
||
|
SD |
148 |
125 |
123 |
|
|||
|
Play Group |
354 |
- |
- |
|
|||
|
TK |
- |
- |
- |
|
|||
|
Diploma |
- |
- |
- |
|
|||
|
S1 |
- |
- |
- |
|
|||
|
S2 |
- |
- |
- |
|
|||
|
Lainnya |
- |
- |
- |
|
|||
Perekonomian:
Sarana
pendukung Ekonomi:
|
Uraian |
Jumlah |
|
Pasar Mini |
- |
|
Kios |
- |
|
Kendaraan umum yang masuk ke wilayah
tersebut |
- |
Kondisi perekonomian masyarakat
|
Uraian |
Jumlah (KK) |
|
Mobil Pribadi |
- |
|
Motor Pribadi |
|
|
Rumah permanen |
|
|
Rumah non permanen |
|
|
Pengguna listrik PLN |
- |
|
Pengguna listrik non PLN |
|
|
Petromak |
- |
|
Kayu bakar |
- |
|
Pelita |
|
|
Genset pribadi |
- |
|
Jumlah KK yang rawan pangan |
|
Kesehatan
Fasilitas kesehatan yang ada di Desa Dadap adalah sebagai
berikut:
|
No |
Uraian |
Jumlah |
|
1 |
Rumah sakit |
- |
|
Posyandu |
5 |
|
|
Puskesmas |
- |
|
|
Rumah/kantor praktek dokter |
- |
|
|
Polindes |
1 |
|
|
Posmaldes |
- |
|
|
2 |
Tenaga Kesehatan |
|
|
Bidan |
- |
|
|
Perawat |
- |
|
|
Dukun bersalin terlatih |
3 |
|
|
Para Medis |
- |
|
|
Sarana kesehatan lainnya |
- |
Penggunaan alat
KB:
|
No |
Jenis alat KB |
Jumlah |
|
1 |
IUD |
28 |
|
2 |
Kondom |
53 |
|
3 |
PIL |
101 |
|
4 |
MOP |
12 |
|
5 |
MOW |
2 |
|
6 |
Suntikan |
215 |
|
7 |
Implan |
31 |
Akses air
bersih
|
No |
Uraian |
Jumlah (Unit) |
Pemanfaatan (KK) |
|
1 |
Sumur Gali |
- |
- |
|
2 |
Sumur Pompa |
- |
- |
|
3 |
Bak Penampungan Air Hujan |
- |
- |
|
4 |
Mata Air |
7 |
902 |
|
5 |
Pengolahan air |
- |
|
|
6 |
Perpipaan |
- |
- |
|
7 |
Sungai |
1 |
432 |
|
8 |
Embung |
1 |
657 |
|
8 |
Lain-lain |
- |
|
Sanitasi
|
No |
Jenis |
Jumlah |
|
1 |
Jamban Keluarga (KK) |
- |
|
2 |
MCK Umum (Unit) |
- |
|
3 |
Sumur Resapan Air Rumah Tangga
(Rumah) |
- |
|
4 |
Leher Angsa |
|
|
5 |
Plengsengan |
|
|
6 |
Cemplung |
|
|
7 |
Lainya |
|
Komoditi Pertanian
Potensi tanaman
semusim di Dadap adalah
sebagai berikut :
|
No |
Uraian |
Luas (ha) |
Produksi (ton) |
|
1 |
Padi sawah |
- |
- |
|
2 |
Padi ladang |
- |
- |
|
3 |
Jagung |
- |
- |
|
4 |
Tomat |
- |
- |
|
5 |
Kacang panjang |
- |
- |
|
Potensi Komoditi Perkebunan dan Hutan di Desa Dadap adalah sebagai
berikut: |
|||
|
Aspek Indikator |
Jumlah |
||
|
Jenis Tanaman Perkebunan (jumlah pohon) |
Coklat |
Belum
produksi |
- |
|
Sudah
produksi |
- |
||
|
Cengkeh |
Belum
produksi |
- |
|
|
Sudah
produksi |
- |
||
|
Tembakau |
Belum
produksi |
- |
|
|
Sudah
produksi |
- |
||
|
Kopi |
Belum
produksi |
- |
|
|
Sudah
produksi |
- |
||
|
Luas Hutan
Desa |
......................... |
||
|
Rata-rata
kepemilikan lahan |
........................ |
||
Ternak
Jumlah Ternak didesa
Dadap:
|
No |
Jenis |
Jumlah |
|
1 |
Sapi potong |
- |
|
2 |
Kambing/Domba |
- |
Program mitra yang ada di Desa
|
No |
Uraian |
Jenis Program |
|
1 |
LPSDM |
Pengurangan Risiko Bencana |
|
2 |
|
|
|
3 |
|
|
BAB III
METODOLOGI DAN PROSES KAJIAN
DRA
Kajian
ini menggunakan beberapa teknik dan metode, antara lain Bagan Alur Sejarah
Bencana, Bagan Peringkat Bencana, Kalender Musim, Pemetaan Lokasi Bencana,
Penelusuran Wilayah Lokasi Bencana, dan Analisis Risiko Bencana.
Bagan
alur sejarah digunakan untuk mengidentifikasi jenis-jenis bencana yang pernah
terjadi di Desa Dadap selama kurun waktu yang masih bisa diingat oleh
masyarakat. Untuk mengetahui tingkat urgensi dari bencana-bencana yang pernah
terjadi, dibuat bagan peringkat dengan menggunakan parameter frekuensi
kejadian, jumlah korban, kecenderungan akan terjadi lagi, luasan dampak, dan nilai
kerugian.
Kalender
musim digunakan untuk mengidentifikasi kembali pola distribusi curah hujan,
kecepatan angin, dan suhu udara; serta menarik hubungan antara
komponen-komponen iklim tersebut dengan tingkat keberhasilan pengembangan
tanaman yang dilakukan oleh masyarakat di Desa Dadap.
Pemetaan
wilayah bencana dilakukan untuk memetakan lokasi-lokasi kejadian bencana yang
pernah terjadi. Hasil pemetaan ditindaklanjuti dengan penelusuran wilayah
(transek) untuk menggali informasi lebih mendalam tentang bencana yang pernah
terjadi di lokasi tersebut.
Berdasarkan
jenis-jenis bencana yang teridentifikasi, dengan mempertimbangkan waktu yang
ada dan jumlah peserta yang terlibat dalam kajian, diambil 3 jenis bencana
untuk diperdalam melalui Analisis Risiko Bencana. Analisis risiko bencana
menggunakan 3 faktor, yaitu Ancaman, Kerentanan, dan Kapasitas. Masing-masing
faktor dijabarkan ke beberapa aspek. Setiap aspek dianalisis dengan menggunakan
beberapa parameter yang dikembangkan bersama masyarakat. Penilaian terhadap
parameter-parameter yang disepakati menggunakan sistem skoring dari 1 sampai 3,
dimana 1 bermakna kategori rendah, 2 untuk kategori sedang, dan 3 untuk
kategori tinggi. Hasil penilaian dari setiap parameter kemudian dicari nilai
rata-rata secara bertingkat mulai dari rata-rata pada tingkatan aspek dan
akhirnya rata-rata pada tingkat faktor.
Untuk
masing-masing jenis bencana, berdasarkan nilai rata-rata yang diperoleh pada
masing-masing faktor, dihitung Tingkat Risiko Bencana dengan rumus sebagai berikut:
Ancaman X Kerentanan
Tingkat Risiko
Bencana =
---------------------------------
Kapasitas
Berdasarkan
hasil perhitungan tersebut, Tingkat Risiko Bencana dibagi menjadi 3 kategori
sebagai berikut :
Skor Tingkat Risiko Bencana
1 s/d < 3 Rendah
3 s/d < 6 Sedang
6 s/d 9 Tinggi
Berdasarkan
hasil analisis risiko masing-masing jenis bencana, kemudian dikembangkan
gagasan-gagasan yang bisa dibuat di tingkat masyarakat. Gagasan-gagasan
tersebut kemudian dikembangkan menjadi rencana aksi di tingkat masyarakat.
BAB IV
HASIL KAJIAN DAN ANALISA TINGKAT RISIKO BENCANA
Jenis
Bencana Dan Pemeringkatan
1.
Banjir dan angin kencang
2.
Banjir
3.
Kekeringan
4.
Wabah penyakit (muntaber dan malaria)
5.
Penyakit pada ternak
Tingkat Risiko Bencana
Berdasarkan
hasil analisis risiko bencana terhadap 3 jenis bencana yang telah dilakukan,
tingkat risiko masing-masing bencana adalah sebagai berikut.
Jenis Bencana Skor Tergolong
1.
Banjir dan angina kencang 6,42 Tinggi
2.
Kekeringan
3,36 Rendah cendrung sedang
3. Gangguan hama 5,14 Sedang
Analisis Masing-masing Bencana
A.
Bencana Banjir dan Angin Kencang
Berdasarkan tingkat risiko ancaman
dan tingkat risiko kerentanan dibandingkan dengan tingkat kapasitas, maka
didapat skor 6,42 yang artinya tingkat risiko bencana dari banjir dan angin di
Desa dadap tergolong tinggi. Adapun analisis tingkat ancaman, kerentanan
dan kapasitas sebagai berikut:
Tingkat ancaman
bencana banjir dan angin kencang di Desa
dadap tergolong tinggi (Skor 2,83)
·
Probabilitas
masih tinggi, mengingat hal ini terjadi hampir setiap tahun pada musim
penghujan. Penyebabnya adalah hutan yang gundul, meluapnya air sungai, pendangkalan
sungai, dan wilayah Desa Dadap yang berada di dataran rendah dan pesisir,
selalu mendapatkan banjir kiriman dari wilayah yang lebih tinggi.
·
Frekuensi terjadinya bencana banjir dan angin
kencanghampir setiap tahun pada puncak musim penghujan, dengan intensitas
tergolong tinggi.
·
Dampak dan Luasan dampak: merusak lahan
pertanian, pengikisan bantaran sungai, mengenangi rumah warga, tercemarnya
sumber air bersih, kegiatan belajar mengajar di sekolah terhambat, pohon kelapa
dan pisang tumbang, rusaknya infrastruktur jalan dan jembatan, gagal panen
padi, dan nelayan tidak bisa melaut
·
Kerugian yang ditaksir akibat dari bencana
banjir dan angin kencang di Desa Dadap adalah Rp 15.215.500.000,- dengan
rincian: merusak lahan pertanian 42 Ha = Rp 1.260.000.000, pengikisan bantaran
sungai 2100 M = Rp 7.875.000.000, mengenangi rumah warga 210 unit = Rp
283.500.000, pemakaman umum hanyut/rusak 10 are = Rp 100.000.000, tercemarnya
sumber air bersih 175 unit sumur gali = Rp 525.000.000, 20 pohon kelapa tumbang
= Rp 20.000.000, 2000 pohon pisang rusak
= Rp 100.000.000, rusaknya infrastruktur jalan 4 KM = Rp 2.000.000.000,rusaknya
1 unit jembatan = Rp 1.500.000.000, gagal panen padi 252 Ton = Rp
1.260.000.000, 100 nelayan tidak bisa melaut selama 2 bulan = Rp 300.000.000.
Tingkat kerentanan
bencana banjir dan angin kencang di Desa
dadap tergolong tinggi (Skor 2,77).
Beberapa faktor yang mengakibatkan Desa Dadap sangat
rentan terhadap bencana banjir dan angin kencang adalah:
·
Saluran irigasi sebagian besar masih belum
permanen
·
penyempitan daearh aliran sungai sehingga air
sering meluap
·
pendangkalan daerah aliran sungai
·
tidak ada tanggul
·
jalur evakuasi belum ada
Sosial
·
Tingkat gotong royong masih tinggi dalam
pembersihan material banjir
·
Belum ada TSBD
·
Belum ada perdes yang mengatur tentang kebencanaan
·
sosialisasi dan penyuluhan tentang kebencanaan
masih sangat minim
Sumber Daya Alam
·
Kondisi hutan yang gundul
·
Kondisi Tanah yang tidak bisa menyerap air
dengan baik
·
posisi desa Dasap yang berada di dataran rendah
dan langsung berbatasan dengan pesisir pantai
Ekonomi
·
Kebiasaan
lumbung pangan sudah tidak ada lagi
·
sudah
ada kelompok tani, namun kegiatan usahanya masih belum ada
·
BUMDes
sudah ada namun belum berjalan
·
Kelompok
usaha Bersama belum ada
·
Akses
permodalan untuk masyarakat masih sulit
·
belum
ada difersivikasi usaha selain pertanian dan nelayan
Tingkat
kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana banjir
dan angin kencang di Desa
dadap tergolong rendah (Skor 1,22).
Beberapa faktor yang mengakibatkan Desa Dadap memiliki kapasitas
yang rendah dalam menghadapi bencana banjir dan angin kencang adalah:
Fisik
·
Masyarakat belum mampu secara swadaya membuat saluran
irigasi secara permanen
·
Masyarakat belum mampu secara swadaya melakukan
normalisasi daerah aliran sungai yang mengalami penyempitan dan pendangkalan
·
Masyarakat belum mampu secara swadaya membuat tanggul
·
Masyarakat belum mampu secara swadaya membuat jalur
evakuasi
Sosial
·
Tingkat gotong royong masih tinggi dalam
pembersihan material banjir
·
Masyarakat belum membentuk TSBD
·
Belum ada perdes yang mengatur tentang
kebencanaan
·
Sosialisasi dan penyuluhan tentang kebencanaan
kepada masyarakat masih sangat minim
Sumber Daya Alam
·
Kondisi hutan yang gundul
·
Kondisi tanah yang tidak bisa menyerap air
dengan baik
·
Posisi Desa Dadap yang berada di dataran rendah
dan langsung berbatasan dengan pesisir pantai
Ekonomi
·
Kebiasaan
lumbung pangan di masyarakat sudah tidak ada lagi
·
Masyarakat
sudah membentuk kelompok tani, namun kegiatan usahanya masih belum ada
·
Pemdes
sudah membentuk Bumdes, namun kegiatannya belum berjalan
·
Masyarakat
belum membentuk kelompok usaha bersama
·
Akses
permodalan untuk masyarakat masih sulit
·
Belum
ada difersivikasi usaha yang dilakukan masyarakat selain bidang pertanian dan
nelayan
d.
Upaya-upaya yang sudah dilakukan masyarakat
·
Gotong royong melakukan pembersihan saluran
irigasi, dan rumah yang terdampak banjir
·
Pembuatan jalan dan jembatan darurat dari kayu
·
Upaya perbaikan lahan secara mandiri/swadaya
B.
Bencana Kekeringan
Berdasarkan tingkat risiko ancaman dan tingkat risiko
kerentanan dibandingkan dengan tingkat kapasitas, maka didapat skor 3,36 yang
artinya tingkat risiko bencana kekeringan di Desa dadap tergolong sedang. Adapun
analisis tingkat ancaman, kerentanan dan kapasitas sebagai berikut:
a.
Analisis Ancaman
Tingkat ancaman bencana banjir dan angin
kencang di Desa dadap tergolong sedang (Skor 2,7)
·
Probabilitas/Kemungkinan
terjadinya kekeringan di Desa Dadap masih bisa terjadi, Penyebabnya
curah hujan yang sedikit, yakni sekitar 3-4 bulan dalam setahun.
·
Frekuensi
terjadinya kekeringan mulai dari bulan mei sampai november, dengan
intensitas tergolong tinggi.
·
Gagal panen padi dan jagung, debit air
berkurang, dan transport pakan ternak
meningkat tinggi.
·
kerugian yang ditaksir akibat Kekeringan ini
adalah Rp 4.187.500.000,- dengan rincian: gagal panen padi 90 Ton = Rp
450.000.000, dan gagal panen jagung 350 Ton = Rp 350.000.000, debit air untuk
irigasi berkurang 150 Ha = Rp 37.500.000, dan
transport pakan ternak meningkat tinggi untuk 200 KK = Rp 3.000.000.000
b.
Analisis Kerentanan
Tingkat kerentanan bencana kekeringan di Desa
dadap tergolong tinggi (Skor 2,22). Beberapa faktor yang mengakibatkan Desa
Dadap sangat rentan terhadap kekeringan
adalah:
Fisik
·
Sudah ada 12 unit sumur bor namun masyarakat
merasa belum cukup untuk keperluan irigasi
·
hanya ada satu unit embung di Desa Dadap
·
Ada Bak penampung air namun penggunaanya belum
maksimal
Sosial
·
Tidak ada konflik sosial yang timbul saat
terjadi kekeringan
·
Sudah ada awig-awig yang mengatur tentang
perairan di Desa Dadap
·
Belum ada TSBD
·
Masyarakat belum mampu membuat sumur bor secara
swadaya
·
Sosialisasi dan penyuluhan tentang perairan
sudah ada
Sumber Daya Alam
·
terdapat 5 mata air kecil di Desa Dadap
·
Musim kemarau cukup panjang mulai dari maret -
november
Ekonomi
·
Sudah ada kelompok tani, namun kegiatan usahanya
masih belum ada
·
Tidak ada kebiasaan lumbung pangan di masyarakat
·
Kelompok usaha bersama belum ada
·
Akses Permodalan untuk masyarakat masih sulit
·
BUMDes sudah ada namun belum berjalan
c.
Analisis
Kapasitas
Tingkat kapasitas masyarakat dalam
menghadapi bencana kekeringan
di Desa Dadap tergolong rendah (Skor 1,22). Beberapa faktor yang mengakibatkan Desa Dadap memiliki kapasitas
yang rendah dalam menghadapi bencana kekeringan
adalah:
Fisik
·
Sudah ada 12 unit sumur bor namun masyarakat
merasa belum cukup untuk keperluan irigasi
·
Masyarakat belum mampu mengadakan embung baru
selain satu unit embung yang sudah ada di
Desa Dadap
·
Penggunaan
bak penampung air oleh masyarakat desa belum maksimal
Sosial
·
Tidak ada konflik sosial yang timbul saat
terjadi kekeringan
·
Sudah ada awig-awig yang mengatur tentang
perairan di Desa Dadap
·
Belum ada TSBD
·
Masyarakat belum mampu membuat sumur bor secara
swadaya
·
Sosialisasi dan penyuluhan tentang perairan
sudah ada
Sumber Daya Alam
·
terdapat 5 mata air kecil di Desa Dadap
·
Musim kemarau cukup panjang mulai dari maret -
november
Ekonomi
·
Sudah ada kelompok tani, namun kegiatan usahanya
masih belum ada
·
Tidak ada kebiasaan lumbung pangan di masyarakat
·
Kelompok usaha bersama belum dibentuk
·
Akses Permodalan untuk masyarakat masih sulit
·
BUMDes sudah ada namun belum berjalan
d.
Upaya-upaya yang sudah dilakukan masyarakat
·
Pengaturan penyaluran air bersih dan irigasi
·
Mencari pakan ternak ke desa lain
C.
Bencana Gangguan/Serangan Hama
Berdasarkan tingkat risiko ancaman dan tingkat risiko
kerentanan dibandingkan dengan tingkat kapasitas, maka didapat skor 5,14 yang
artinya tingkat risiko bencana gangguan hama di Desa Dadap tergolong sedang. Adapun
analisis tingkat ancaman, kerentanan dan kapasitas sebagai berikut:
a. Analisis Ancaman
Tingkat ancaman bencana gangguan
hama di Desa dadap tergolong tinggi (Skor 2,62)
·
Probabilitas
terjadinya gangguan hama di Desa dadap masih tinggi. Penyebab terjadinya
gangguan hama adalah pola tanam yang masih kurang baik, pengolahan lahan yang
kurang baik, penggunaan obat pembasmi hama masih minim, cuaca ekstrim, dan
minimnya penyuluhan tentang hama tanaman.
·
Frekuensi
terjadi setiap tahun pada bulan 3-4 pada musim tanam ke-2, dengan intensitas
tergolong tinggi.
·
Dampak
dan luasan dampak akibat gangguan hama ini adalah berkurangnya hasil panen padi
hingga 780 ton.
·
Kerugian
yang ditaksir akibat gangguan hama ini adalah Rp Rp 3.900.000.000, dengan
rincian: berkurangnya hasil panen padi 780 Ton = Rp 3.900.000.000.
b.
Analisis Kerentanan
Tingkat kerentanan bencana gangguan hama di Desa
Dadap tergolong tinggi (Skor 2,65). Beberapa faktor yang mengakibatkan Desa
Dadap sangat rentan terhadap bencana
gangguan hama adalah:
Fisik
·
Tidak ada jaring pelindung tanaman padi dari
serangan hama burung
Sosial
·
Belum pernah ada sosialisasi atau penyuluhan
tentang serangan hama pada tanaman
·
cara-cara tradisional dalam mengusir hama
seperti menggunakan "mantra" dalam mengusir hama masih sering
Sumber Daya Alam
·
Cuaca yang ekstrim
Ekonomi
·
Sudah ada kelompok tani, namun kegiatan usahanya
masih belum ada
·
Tidak ada kebiasaan lumbung pangan di masyarakat
·
Kelompok usaha bersama belum ada
·
Akses Permodalan untuk masyarakat masih sulit
·
BUMDes sudah ada namun belum berjalan
c. Analisis Kapasitas
Tingkat kapasitas masyarakat dalam
menghadapi bencana gangguan
hama di Desa Dadap tergolong rendah (Skor 1,35). Beberapa faktor yang mengakibatkan Desa Dadap memiliki kapasitas
yang rendah dalam menghadapi bencana
gangguan hama adalah:
Fisik
·
Tidak ada jaring pelindung tanaman padi dari
serangan hama burung
Sosial
·
Belum pernah ada sosialisasi atau penyuluhan
tentang serangan hama pada tanaman
·
cara-cara tradisional dalam mengusir hama
seperti menggunakan "mantra" dalam mengusir hama masih sering
Sumber Daya Alam
·
Cuaca yang ekstrim
Ekonomi
·
Sudah ada kelompok tani, namun kegiatan usahanya
masih belum ada
·
Tidak ada kebiasaan lumbung pangan di masyarakat
·
Kelompok usaha bersama belum dibentuk
·
Masyarakat masih sulit dalam mengakses modal
·
BUMDes sudah ada namun belum bisa dimanfaatkan
oleh masayarakat
d.
Upaya-upaya yang sudah dilakukan masyarakat
·
masyarakat melakukan pembasmian hama
BAB V
PENUTUP
Kesimpulan
Dari
hasil kajian yang telah dilakukana di Desa Dadap yang meliputi 3 jenis
kebencanaan maka dapat disimpulkan beberpa hal antara lain:
·
Bencana
banjir masih menjadi ancaman bagi masyarakat Desa Dadap mengingat letak
georafis Desa Dadap dilewati oleh beberpa buah sungai yang dibagian hulu. Hulu
dari sungai tersebut merupakan daerah
tangkapan air pada musim hujan Pada saat terjadi hujan lebat, air hujan akan
terkumpul dihulu dan mengalir deras ke sungai tersebut.
·
Sedimentasi
yang terjadi di daerah hilir telah menutup aliran banjir untuk sampai ke laut.
Akibatnya, pada saat terjadi banjir, aliran air terpecah dan menyebar sehingga
menggenangi lahan-lahan pertanian dan merusak tanaman yang ada di dalamnya.
·
Belum
ada upaya yang dilakukan baik oleh masyarakat maupun pemerintah untuk
meningkatkan resapan air di daerah hulu dan mengendalikan aliran banjir di
daerah hilir agar banjir bisa langsung ke laut sehingga tidak menimbulkan
kerusakan areal pertanian, misalnya dengan cara melakukan
pengerukan/normalisasi sungai sampai tembus ke laut.
·
Bencana
berupa kekeringan terjadi setiap tahunnya mengingat bulan hujan terjadi sekitar
3 sampai 4 bulan dengan daerah yang miring dan tanah yang poros sehingga tidak
memungkinkan untuk air mengendap lama sehingga terjadi kekeringan untuk itu
upaya yang akan dilakukan adalah lebih banyak ke arah konservasi dan reboisasi.
Dengan demikian diharapakan akan terjadi kelembaban dan munculnya mata air-mata
air kecil yang bisa dimamfaatkan oleh masyarakat.
·
Belum
ada upaya-upaya atau penerapan teknologi yang dilakukan oleh masyarakat untuk
mengatasi kekurangan air guna mendukung pengembangan pertanian, membuat bak
penampung air hujan, sistem irigasi tetes, dll. Teknologi yang telah diterapkan
adalah pembuatan perpipaan untuk air bersih yang pengelolaannya masih belum
maksimal.
·
Hama
dan penyakit Tanaman menjadi hal yang perlu diwaspadai mengingat hal ini
mengancam terhadap kecukupan pangan bagi masyarakat sehingga perlu dilakukan
pola tanam terpadu dan pemberantasan hama secara terpadu pula.
L A M P I R A N
Lampiran 1 : Bagan Alur Sejarah Bencana Desa Dadap
|
Tahun Kejadian |
Jenis Bencana |
Intensitas |
Frekuensi |
Dampak |
Respon yang dilakukan masyarakat |
skala prioritas |
|
2017 |
Banjir
dan Angin Kencang |
Intensitas
tergolong tinggi |
Terjadi
setiap tahun pada puncak musim penghujan |
merusak
lahan pertanian, pengikisan bantaran sungai, mengenangi rumah warga,
tercemarnya sumber air bersih, kegiatan belajar mengajar di sekolah terhambat,
pohon kelapa dan pisang tumbang, rusaknya infrastruktur jalan dan jembatan,
gagal panen padi, nelayan tidak bisa melaut |
gotong
royong pembersihan saluran irigasi,
dan rumah yang terdampak, pembuatan jalan dan jembatan darurat dari
kayu, upaya perbaikan lahan secara mandiri |
1 |
|
2017 |
Kekeringan |
Intensitas
tergolong tinggi |
terjadi
setiap tahun mulai bulan 5 - 11 |
gagal
panen padi dan jagung, debit air berkurang, dan transport pakan ternak meningkat tinggi |
pengaturan
penyaluran air bersih dan irigasi, mencari pakan ternak ke desa lain |
2 |
|
2017 |
Wabah
Penyakit (muntaber dan malaria) |
Intensitas
tergolong sedang |
terjadi
setiap tahun pada pertengahan musim hujan |
warga
terkena penyakit malaria dan muntaber |
melaporkan ke dinas kesehatan, gotong royong melakukan
pembersihan lingkungan, |
5 |
|
2017 |
Hama
dan Penyakit Tanaman |
Intensitas
tergolong tinggi |
terjadi
setiap tahun antara bulan maret dan april |
berkurangnya
hasil pertanian |
masyarakat
melakukan pembasmian hama |
3 |
|
2017 |
Penyakit
pada ternak |
intensitas
tergolong tinggi |
terjadi
setiap tahun pada bulan januarai sampai februari |
banyak
hewan ternak yang mati |
pelaporan
ke dinas pertanian |
4 |
A. Bencana Banjir dan Angin Kencang
|
Analisis Ancaman |
|||||
|
Jenis Ancaman |
Identifikasi
Ancaman |
skor |
Skor Rata-rata |
||
|
Aspek penilaian |
Kondisi wilayah |
||||
|
Banjir dan Angin Kencang |
Probabilitas dan Penyebab |
Probabilitas masih tinggi, mengingat hal ini terjadi hampir
setiap tahun pada musim penghujan |
3 |
3 |
|
|
penyebabnya adalah hutan yang gundul |
3 |
||||
|
meluapnya air sungai |
3 |
||||
|
pendangkalan sungai |
3 |
||||
|
wilayah Desa Dadap yang berada di dataran rendah dan pesisir,
selalu mendapatkan banjir kiriman dari wilayah yang lebih tinggi |
3 |
||||
|
Frekuensi dan Intensitas |
Terjadi setiap tahun pada puncak musim penghujan |
3 |
3 |
||
|
Intensitas tergolong tinggi |
3 |
||||
|
Dampak dan Luasan dampak |
Kerusakan lahan |
3 |
2,33 |
||
|
pengikisan bantaran sungai |
2 |
||||
|
menggenangi rumah warga |
2 |
||||
|
tercemarnya air bersih warga |
2 |
||||
|
kegiatan pendidikan di sekolah terhambat |
1 |
||||
|
Pohon pisang dan kelapa banyak yang tumbang |
2 |
||||
|
rusaknya infrastruktur jalan dan jembatan |
3 |
||||
|
gagal panen padi |
3 |
||||
|
Nelayan tidak bisa melaut |
3 |
||||
|
Kerugian |
Total taksir kerugian akibat bencana banjir dan angin ini adalah
Rp 15.215.500.000,- dengan rincian: |
3 |
3 |
||
|
merusak lahan pertanian 42 Ha = Rp 1.260.000.000, pengikisan
bantaran sungai 2100 M = Rp 7.875.000.000, mengenangi rumah warga 210 unit =
Rp 283.500.000, pemakaman umum hanyut/rusak 10 are = Rp 100.000.000, tercemarnya
sumber air bersih 175 unit sumur gali = Rp 525.000.000, 20 pohon kelapa
tumbang = Rp 20.000.000, 2000 pohon
pisang rusak = Rp 100.000.000, rusaknya infrastruktur jalan 4 KM = Rp
2.000.000.000,rusaknya 1 unit jembatan = Rp 1.500.000.000, gagal panen padi
252 Ton = Rp 1.260.000.000, 100 nelayan tidak bisa melaut selama 2 bulan = Rp
300.000.000 |
|||||
|
|
|
RATA-RATA |
|
2,83 |
|
|
|
|
TINGKAT ANCAMAN |
|
|
|
|
Analisis Kerentanan |
||||
|
Jenis Ancaman |
Identifikasi
Kerentanan |
Skor |
Skor Rata-rata |
|
|
Aspek penilaian |
Kondisi wilayah |
|||
|
Banjir dan Angin |
Aspek fisik |
Saluran irigasi sebagian besar masih belum
permanen |
3 |
3 |
|
penyempitan daearh aliran sungai sehingga air
sering meluap |
3 |
|||
|
pendangkalan daerah aliran sungai |
3 |
|||
|
tidak ada tanggul |
3 |
|||
|
jalur evakuasi belum ada |
3 |
|||
|
Aspek sosial |
Tingkat gotong royong masih tinggi dalam
pembersihan material banjir |
3 |
2,75 |
|
|
Belum ada TSBD |
3 |
|||
|
Belum ada perdes yang mengatur tentang
kebencanaan |
3 |
|||
|
sosialisasi dan penyuluhan tentang kebencanaan
masih sangat minim |
2 |
|||
|
Aspek Sumber daya Alam |
Kondisi hutan yang gundul |
3 |
2,67 |
|
|
Kondisi Tanah yang tidak bisa
menyerap air dengan baik |
2 |
|||
|
posisi desa Dasap yang berada di dataran rendah dan langsung
berbatasan dengan pesisir pantai |
3 |
|||
|
Aspek ekonomi |
Kebiasaan lumbung pangan sudah
tidak ada lagi |
3 |
2,67 |
|
|
sudah ada kelompok tani, namun
kegiatan usahanya masih belum ada |
2 |
|||
|
BUMDes sudah ada namun belum berjalan |
2 |
|||
|
Kelompok usaha Bersama belum ada |
3 |
|||
|
Akses permodalan untuk masyarakat masih sulit |
3 |
|||
|
belum ada difersivikasi usaha selain pertanian dan nelayan |
3 |
|||
|
|
Rata2
|
|
2,77 |
|
|
|
Tingkat kerentanan : |
|
|
|
|
Analisis Kapasitas |
||||
|
Jenis Ancaman |
Identifikasi
Kapasitas |
Skor |
Skor Rata-rata |
|
|
Aspek penilaian |
Kondisi wilayah |
|||
|
Banjir dan Angin Kencang |
Aspek fisik |
Masyarakat belum mampu secara swadaya membuat
saluran irigasi secara permanen |
1 |
1 |
|
Masyarakat belum mampu secara swadaya melakukan
normalisasi daerah aliran sungai yang mengalami penyempitan dan pendangkalan |
1 |
|||
|
Masyarakat belum mampu secara swadaya membuat
tanggul |
1 |
|||
|
Masyarakat belum mampu secara
swadaya membuat jalur evakuasi |
1 |
|||
|
|
|
|||
|
Aspek sosial |
Tingkat gotong royong masih tinggi dalam
pembersihan material banjir |
1 |
1,25 |
|
|
Masyarakat dan Pemdes belum membentuk TSBD |
1 |
|||
|
Belum ada perdes yang mengatur tentang
kebencanaan |
1 |
|||
|
sosialisasi dan penyuluhan tentang kebencanaan
masih sangat minim |
2 |
|||
|
|
Kondisi hutan yang gundul |
1 |
1,33 |
|
|
Aspek Sumber daya Alam |
Kondisi Tanah yang tidak bisa
menyerap air dengan baik |
2 |
||
|
posisi desa Dasap yang berada di dataran rendah dan langsung
berbatasan dengan pesisir pantai |
1 |
|||
|
Aspek ekonomi |
Kebiasaa lumbung pangan sudah tidak
ada lagi |
1 |
1,33 |
|
|
Masyarakat sudah membentuk kelompok
tani, namun kegiatan usahanya masih belum ada |
2 |
|||
|
BUMDes sudah ada namun belum berjalan |
2 |
|||
|
Masyarakat belum membentuk kelompok usaha bersama |
1 |
|||
|
Akses permodalan untuk masyarakat masih sulit |
1 |
|||
|
belum ada difersivikasi usaha yang dilakukan oleh masyarakat
selain pertanian dan nelayan |
1 |
|||
|
|
|
|||
|
|
Rata2
|
|
1,22 |
|
|
|
Tingkat kerentanan : |
|
|
|
|
A. Kekeringan Analisis Ancaman |
|
|
|
||||
|
Jenis
Ancaman |
Identifikasi
Ancaman |
skor |
Skor
Rata-rata |
||||
|
Aspek
penilaian |
Kondisi
wilayah |
||||||
|
Kekeringan |
Probabilitas
dan Penyebab |
Kemungkinan terjadinya kekeringan
di Desa Dadap masih bisa terjadi |
2 |
2,5 |
|||
|
Penyebabnya curah hujan yang
sedikit, yakni sekitar 3-4 bulan dalam setahun |
3 |
||||||
|
|
|
|
|||||
|
Frekuensi dan Intensitas |
Frekuensi terjadinya kekeringan
mulai dari bulan mei sampai november |
3 |
3 |
||||
|
Intensitas tergolong tinggi |
3 |
||||||
|
|
|
|
|||||
|
Dampak dan Luasan dampak |
gagal panen padi dan jagung |
3 |
2,33 |
||||
|
Debit air untuk irigasi berkurang |
2 |
||||||
|
pakan ternak sulit didapatkan |
2 |
||||||
|
|
|
||||||
|
Kerugian |
Total taksir kerugian akibat
Kekeringan ini adalah Rp 4.187.500.000,- dengan rincian: |
3 |
3 |
||||
|
gagal panen padi 90 Ton = Rp
450.000.000, dan gagal panen jagung 350 Ton = Rp 350.000.000, debit air untuk
irigasi berkurang 150 Ha = Rp 37.500.000, dan
transport pakan ternak meningkat tinggi untuk 200 KK = Rp 3.000.000.000
|
|||||||
|
RATA-RATA |
|
2,7 |
|||||
|
TINGKAT ANCAMAN |
|
|
|||||
|
|||||||
Analisis Kerentanan
|
Jenis Ancaman |
Identifikasi
Kerentanan |
Skor |
Skor Rata-rata |
|
|
Aspek penilaian |
Kondisi wilayah |
|||
|
Kekeringan |
Aspek fisik |
Sudah ada 12 unit sumur bor namun masyarakat
merasa belum cukup |
2 |
2 |
|
hanya ada satu unit embung di Desa Dadap |
2 |
|||
|
Ada Bak penampung air namun penggunaanya belum
maksimal |
2 |
|||
|
Aspek sosial |
Tidak ada konflik sosial yang timbul saat
terjadi kekeringan |
1 |
1,8 |
|
|
sudah ada awig-awig yang mengatur tentang
perairan di Desa Dadap |
1 |
|||
|
Belum ada TSBD |
3 |
|||
|
Masyarakat belum mampu membuat sumur bor secara
swadaya |
3 |
|||
|
sosialisasi dan penyuluhan tentang perairan
sudah ada |
1 |
|||
|
Aspek Sumber daya Alam |
terdapat 5 mata air kecil di Desa
Dadap |
2 |
2,5 |
|
|
Musim kemarau cukup panjang mulai dari maret - november |
3 |
|||
|
Aspek Ekonomi |
sudah ada kelompok tani, namun
kegiatan usahanya masih belum ada |
2 |
2,6 |
|
|
Tidak ada kebiasaan lumbung pangan di masyarakat |
3 |
|||
|
Kelompok usaha bersama belum ada |
3 |
|||
|
Akses Permodalan untuk masyarakat masih sulit |
3 |
|||
|
BUMDes sudah ada namun belum berjalan |
2 |
|||
|
|
Rata2
|
|
2,22 |
|
|
|
Tingkat kerentanan : |
|
|
|
Analisis Kapasitas
|
Jenis Ancaman |
Identifikasi
Kapasitas |
Skor |
Skor Rata-rata |
|
|
Aspek penilaian |
Kondisi wilayah |
|||
|
Kekeringan |
Aspek fisik |
Sudah ada 12 unit sumur bor namun masyarakat
merasa belum cukup untuk keperluan irigasi |
2 |
2 |
|
Masyarakat belum mampu mengadakan embung baru
selain satu unit embung yang sudah ada
di Desa Dadap |
2 |
|||
|
Penggunaan
bak penampung air oleh masyarakat desa belum maksimal |
2 |
|||
|
|
|
|||
|
Aspek sosial |
Tidak ada konflik sosial yang timbul saat
terjadi kekeringan |
3 |
2,22 |
|
|
sudah ada awig-awig yang mengatur tentang
perairan di Desa Dadap |
3 |
|||
|
Belum ada TSBD |
1 |
|||
|
Masyarakat belum mampu membuat sumur bor secara
swadaya |
1 |
|||
|
sosialisasi dan penyuluhan tentang perairan
sudah ada |
3 |
|||
|
|
|
|
|
|
|
Aspek Sumber daya Alam |
Terdapat 5 mata air kecil di Desa
Dadap |
2 |
1,5 |
|
|
Musim kemarau cukup panjang mulai dari maret -
november |
1 |
|||
|
|
|
|||
|
Aspek Ekonomi |
sudah ada kelompok tani, namun
kegiatan usahanya masih belum ada |
2 |
1,4 |
|
|
Tidak ada kebiasaan lumbung pangan di masyarakat |
1 |
|||
|
Belum dibentuk kelompok usaha bersama |
1 |
|||
|
Akses permodalan untuk masyarakat masih sulit |
1 |
|||
|
BUMDes sudah ada namun belum berjalan |
2 |
|||
|
|
Rata2
|
|
1,78 |
|
|
|
Tingkat kerentanan : |
|
|
|
B.
Gangguan
Hama
Analisis
Ancaman
|
Jenis Ancaman |
Identifikasi
Ancaman |
skor |
Skor Rata-rata |
||
|
Aspek penilaian |
Kondisi wilayah |
||||
|
Hama dan Penyakit Tanaman |
Probabilitas dan Penyebab |
Probabilitas terjadinya gangguan hama di Desa dadap masih tinggi |
3 |
2,5 |
|
|
Penyebab terjadinya gangguan hama adalah pola tanam yang masih
kurang baik |
2 |
||||
|
pengolahan lahan yang kurang baik |
2 |
||||
|
penggunaan obat pembasmi hama masih minim |
2 |
||||
|
minimnya penyuluhan tentang hama tanaman |
3 |
||||
|
Cuaca ekstrim |
3 |
||||
|
Frekuensi dan Intensitas |
Frekuensi terjadi setiap tahun pada bulan 3-4 pada musim tanam
ke-2 |
3 |
3 |
||
|
Intenistas tergolong tinggi |
3 |
||||
|
|
|
||||
|
Dampak dan Luasan Dampak |
Berkurangnya hasil pertanian |
3 |
2 |
||
|
Masyarakat terkena penyakit kulit |
1 |
||||
|
|
|
|
|
||
|
Kerugian |
Total taksir kerugian akibat dari gangguan hama adalah Rp
3.900.000.000,- dengan rincian: |
3 |
3 |
||
|
Berkurangnya hasil panen padi 780 Ton = Rp 3.900.000.000 |
|||||
|
|
|
RATA-RATA |
|
2,62 |
|
|
|
|
TINGKAT ANCAMAN |
|
|
|
Analisis
Kerentanan
|
Jenis Ancaman |
Identifikasi
Kerentanan |
Skor |
Skor Rata-rata |
|
|
Aspek penilaian |
Kondisi wilayah |
|||
|
Hama dan Penyakit Tanaman |
Aspek Fisik |
Tidak ada jaring pelindung tanaman padi dari
serangan hama burung |
3 |
3 |
|
|
|
|||
|
Aspek sosial |
Belum pernah ada sosialisasi atau penyuluhan
tentang serangan hama pada tanaman |
2 |
2 |
|
|
cara-cara tradisional dalam mengusir hama
seperti menggunakan "mantra" dalam mengusir hama masih sering
dilakukan |
2 |
|||
|
Aspek Sumber daya Alam |
Cuaca yang ekstrim |
3 |
3 |
|
|
|
|
|
||
|
Aspek ekonomi |
sudah ada kelompok tani, namun
kegiatan usahanya masih belum ada |
2 |
2,6 |
|
|
Tidak ada kebiasaan lumbung pangan di masyarakat |
3 |
|||
|
Kelompok usaha bersama belum ada |
3 |
|||
|
Akses Permodalan untuk masyarakat masih sulit |
3 |
|||
|
BUMDes sudah ada namun belum berjalan |
2 |
|||
|
|
Rata2
|
|
2,65 |
|
|
|
Tingkat kerentanan : |
|
|
|
Analisis
Kapasitas
|
Jenis Ancaman |
Identifikasi
Kapasitas |
Skor |
Skor Rata-rata |
|
|
Aspek penilaian |
Kondisi wilayah |
|||
|
Hama dan Penyakit Tanaman |
Aspek Fisik |
Tidak ada jaring pelindung tanaman padi dari
serangan hama burung |
1 |
1 |
|
|
|
|||
|
Aspek sosial |
Masyarakat belum pernah mendapatkan sosialisasi
atau penyuluhan tentang serangan hama pada tanaman |
2 |
2 |
|
|
Masyarakat masih menggunakan cara-cara
tradisional dalam mengusir hama seperti menggunakan "mantra". |
2 |
|||
|
|
|
|||
|
Aspek Sumber daya Alam |
Cuaca yang ekstrim |
1 |
1 |
|
|
|
|
|||
|
Aspek ekonomi |
sudah ada kelompok tani, namun
kegiatan usahanya masih belum ada |
2 |
1,4 |
|
|
Tidak ada kebiasaan lumbung pangan di masyarakat |
1 |
|||
|
Kelompok usaha bersama belum dibentuk |
1 |
|||
|
Masyarakat masih sulit dalam mengakses modal |
1 |
|||
|
BUMDes sudah ada namun belum bisa dimanfaatkan oleh masayarakat |
2 |
|||
|
|
|
|||
|
|
Rata2
|
|
1,35 |
|
|
|
Tingkat kerentanan : |
|
|
|
Sintesa hasil kajian
|
Jenis
Bencana |
Tingkat
Risiko Bencana |
Tingkat
Ancaman |
Tingkat
Kerentanan |
Tingkat
Kapasitas |
||||
|
Skor |
Penjelasan |
Skor |
Penjelasan |
Skor |
Penjelasan |
Skor |
Penjelasan |
|
|
Banjir dan Angin |
6,42 |
Berdasarkan tingkat risiko ancaman
dan tingkat risiko kerentanan dibandingkan dengan tingkat kapasitas, maka
didapat skor 6,42 yang artinya tingkat risiko bencana dari banjir dan angin
tergolong tinggi. |
2,83 |
Probabilitas terjadinya banjir dan
angin masih tinggi, mengingat hal ini terjadi hampir setiap tahun pada musim
penghujan. Penyebabnya adalah hutan yang gundul, meluapnya air sungai,
pendangkalan sungai, wilayah Desa Dadap yang berada di dataran rendah dan
pesisir, selalu mendapatkan banjir kiriman dari wilayah yang lebih tinggi. |
2,77 |
Dari segi aspek fisik: Saluran irigasi
sebagian besar masih belum permanen, penyempitan daerah aliran sungai
sehingga air sering meluap, pendangkalan daerah aliran sungai, dan tidak ada tanggul, dan jalur evakuasi
belum ada. Kemudian dari segi aspek sosial: Tingkat gotong royong masih tinggi
dalam pembersihan material banjir, belum ada TSBD, belum ada perdes yang
mengatur tentang kebencanaan, sosialisasi dan penyuluhan tentang kebencanaan
masih sangat minim. Selanjutnya dari segi aspek sumber daya alam: kondisi
hutan yang gundul, kondisi tanah yang tidak bisa menyerap air dengan baik,
dan posisi desa Dasap yang berada di dataran rendah dan langsung berbatasan
dengan pesisir pantai. Terakhir dari segi aspek ekonomi: Kebiasaan lumbung
pangan sudah tidak ada lagi, sudah ada kelompok tani, namun kegiatan usahanya
masih belum ada, BUMDes sudah ada namun belum berjalan, kelompok usaha
Bersama belum ada, akses permodalan untuk masyarakat masih sulit, dan belum
ada difersivikasi usaha selain pertanian dan nelayan. |
1,22 |
Dari aspek segi fisik: Masyarakat
belum mampu secara swadaya membuat saluran irigasi secara permanen,
Masyarakat belum mampu secara swadaya melakukan normalisasi daerah aliran
sungai yang mengalami penyempitan dan pendangkalan, pendangkalan daerah
aliran sungai, dan tidak ada tanggul,
danMasyarakat belum mampu secara swadaya membuat jalur evakuasi. Kemudian
dari segi aspek sosial: Tingkat gotong royong masih tinggi dalam pembersihan
material banjir, belum ada TSBD, belum ada perdes yang mengatur tentang
kebencanaan, sosialisasi dan penyuluhan tentang kebencanaan masih sangat
minim. Selanjutnya dari segi aspek sumber daya alam: kondisi hutan yang
gundul, kondisi tanah yang tidak bisa menyerap air dengan baik, dan posisi
desa Dasap yang berada di dataran rendah dan langsung berbatasan dengan
pesisir pantai. Terakhir dari segi aspek ekonomi: Kebiasaan lumbung pangan
sudah tidak ada lagi, sudah ada kelompok tani, namun kegiatan usahanya masih
belum ada, BUMDes sudah ada namun belum berjalan, kelompok usaha Bersama
belum ada, akses permodalan untuk masyarakat masih sulit, dan belum ada
difersivikasi usaha selain pertanian dan nelayan. |
|
Kekeringan |
3,36 |
Berdasarkan tingkat risiko ancaman
dan tingkat risiko kerentanan dibandingkan dengan tingkat kapasitas, maka
didapat skor 3,36 yang artinya tingkat risiko bencana dari kekeringan
tergolong sedang. |
2,7 |
Kemungkinan terjadinya kekeringan
di Desa Dadap masih bisa terjadi. Penyebabnya curah hujan yang sedikit, yakni
sekitar 3-4 bulan dalam setahun. |
2,22 |
Dari segi aspek fisik: sudah ada 12
unit sumur bor namun masyarakat merasa belum cukup, hanya ada satu unit
embung di Desa Dadap, dan ada bak penampung air namun penggunaanya belum
maksimal. Kemudian dari segi aspek sosial: tidak ada konflik sosial yang
timbul saat terjadi kekeringan, sudah ada awig-awig yang mengatur tentang
perairan di Desa Dadap, belum ada TSBD, masyarakat belum mampu membuat sumur
bor secara swadaya, serta sosialisasi dan penyuluhan tentang perairan sudah
ada. Selanjutnya dari segi aspek sumber daya alam: terdapat 5 mata air kecil
di Desa Dadap dan Musim kemarau cukup panjang mulai dari maret - november.
Terakhir dari segi aspek ekonomi: sudah ada kelompok tani, namun kegiatan
usahanya masih belum ada, tidak ada kebiasaan lumbung pangan di masyarakat,
kelompok usaha bersama belum ada, akses permodalan untuk masyarakat masih
sulit, dan BUMDes sudah ada namun belum berjalan. |
1,78 |
Dari segi aspek fisik: sudah ada 12
unit sumur bor namun masyarakat merasa belum cukup, hanya ada satu unit
embung di Desa Dadap, dan ada bak penampung air namun penggunaanya belum
maksimal. Kemudian dari segi aspek sosial: tidak ada konflik sosial yang
timbul saat terjadi kekeringan, sudah ada awig-awig yang mengatur tentang
perairan di Desa Dadap, belum ada TSBD, masyarakat belum mampu membuat sumur
bor secara swadaya, serta sosialisasi dan penyuluhan tentang perairan sudah
ada. Selanjutnya dari segi aspek sumber daya alam: terdapat 5 mata air kecil
di Desa Dadap dan Musim kemarau cukup panjang mulai dari maret - november.
Terakhir dari segi aspek ekonomi: sudah ada kelompok tani, namun kegiatan
usahanya masih belum ada, tidak ada kebiasaan lumbung pangan di masyarakat,
kelompok usaha bersama belum ada, akses permodalan untuk masyarakat masih
sulit, dan BUMDes sudah ada namun belum berjalan. |
|
Hama dan Penyakit Tanaman |
5,14 |
Berdasarkan tingkat risiko ancaman
dan tingkat risiko kerentanan dibandingkan dengan tingkat kapasitas, maka
didapat skor 5,14 yang artinya tingkat risiko bencana dari ganngguan hama
tergolong sedang. |
2,62 |
Probabilitas terjadinya gangguan
hama di Desa dadap masih tinggi. Penyebab terjadinya gangguan hama adalah
pola tanam yang masih kurang baik, pengolahan lahan yang kurang baik,
penggunaan obat pembasmi hama masih minim, dan minimnya penyuluhan tentang
hama tanaman. |
2,65 |
Dari segi aspek fisik: Tidak ada
jaring pelindung tanaman padi dari serangan hama burung. Kemudian dari segi
aspek sosial: belum pernah ada sosialisasi atau penyuluhan tentang serangan
hama pada tanaman dan cara-cara tradisional dalam mengusir hama seperti
menggunakan "mantra" dalam mengusir hama masih sering dilakukan.
Selanjuntnya dari segi aspek sumber daya alam: cuaca yang ekstrim. Terakhir
dari segi aspek ekonomi: sudah ada
kelompok tani, namun kegiatan usahanya masih belum ada, tidak ada kebiasaan
lumbung pangan di masyarakat, kelompok usaha bersama belum ada, akses
permodalan untuk masyarakat masih sulit, dan BUMDes sudah ada namun belum
berjalan. |
1,35 |
Dari segi aspek fisik: Tidak ada
jaring pelindung tanaman padi dari serangan hama burung. Kemudian dari segi
aspek sosial: belum pernah ada sosialisasi atau penyuluhan tentang serangan
hama pada tanaman dan cara-cara tradisional dalam mengusir hama seperti
menggunakan "mantra" dalam mengusir hama masih sering dilakukan.
Selanjuntnya dari segi aspek sumber daya alam: cuaca yang ekstrim. Terakhir
dari segi aspek ekonomi: sudah ada
kelompok tani, namun kegiatan usahanya masih belum ada, tidak ada kebiasaan
lumbung pangan di masyarakat, kelompok usaha bersama belum ada, akses permodalan
untuk masyarakat masih sulit, dan BUMDes sudah ada namun belum berjalan. |
|
RENCANA
AKSI DESA DADAP KECAMATAN SAMBELIA |
|||||||||||
|
Rencana aksi PRB Banjir dan Angin
Kencang |
|||||||||||
|
No |
kegiatan
|
target |
waktu |
lokasi |
Penangung
jawab |
Pihak
Pendukung |
Bentuk
Dukungan |
||||
|
1 |
Pembuatan saluran irigasi permanen |
3 Km |
bulan
7 - 11, 2018 |
Dusun Kokok Rajak dan Timburan |
Kadus |
Pemdes, LPSDM, Instansi terkait |
Material
dan Pendanaan |
||||
|
2 |
Normalisasi DAS |
2 Km |
bulan
7 - 11, 2018 |
Dusun Kokok Rajak |
Kadus |
Pemdes, LPSDM, Instansi terkait |
Alat
Berat |
||||
|
3 |
Pembuatan tanggul |
500 M |
bulan
7 - 11, 2018 |
Dsun tanjong |
Kepala
Desa |
Pemdes, LPSDM, Instansi terkait |
Alat
Berat |
||||
|
4 |
Pembentukan TSBD |
1 |
Desember
2017 |
Kantor Desa |
Kepala
Desa |
Pemdes, LPSDM, BPBD |
Fasilitasi |
||||
|
5 |
Pengintegrasian rencana aksi PRB ke dalam
RPJMDes |
1 |
Sep-18 |
Kantor Desa |
Kepala
Desa |
Pemdes, LPSDM |
Fasilitasi |
||||
|
6 |
Penghijaun di bantaran daerah aliran sungai dan
pesisir |
2000
bibit |
januari
- februari 2018 |
4 Dusun di Desa Dadap |
Kadus |
Pemdes, LPSDM, Intasnsi terkait |
Pengadaan
bibit |
||||
|
7 |
pembuatan jalur evakuasi |
1 |
januari
- februari 2018 |
4 Dusun jalur Desa Dadap |
Kepala
Desa |
Pemdes dan LPSDM |
Fasilitasi |
||||
|
8 |
Penguatan dan Peningkatan kapasitas Kelompok
Tani |
5
Kelompok |
Mei
2018 |
4 Dusun dan Desa Dadap |
Kepala
Desa |
Pemdes, LPSDM, Instansi terkait |
Fasilitasi |
||||
|
Rencana aksi PRB KEKERINGAN |
|||||||
|
No |
kegiatan
|
target |
waktu |
lokasi |
Penangung
jawab |
Pihak
Pendukung |
Bentuk
Dukungan |
|
1 |
Pengadaan Sumur Bor |
3 unit |
Juli - November 2018 |
Dusun Timburan, Kokok Rajak, dan Dadap |
Kepala Desa |
Pemdes, LPSDM, Instansi terkait |
Alat Berat |
|
2 |
Konservasi mata air |
5 Sumber Mata Air |
Juli - November 2018 |
4 Dusun di Desa Dadap |
Kepala Desa |
Pemdes, LPSDM, Instansi terkait |
Pengadaan TUP dan fasilitasi |
|
3 |
Normalisasi Embung |
1 unit |
Juli - November 2018 |
Dusun dadap |
Kepala Desa |
Pemdes, LPSDM, Instansi terkait |
Alat Berat |
|
4 |
Pembuatan Bak penampungan air bersih |
3 unit (ukuran 10.000 L) |
Juli - November 2018 |
Dusun Tanjong, Timburan dan Kokok Rajak |
Kepala Desa |
Pemdes, LPSDM, Instansi terkait |
Material dan Pendanaan |
|
5 |
Pembentukan kepengurusan pengelolaan sumur bor |
12 kelompok |
Januari 2018 |
4 Dusun di Desa Dadap |
Kepala Desa |
Pemdes, LPSDM |
Fasilitasi |
|
6 |
Pembentukan kelompok usaha bersama |
4 kelompok |
Januari 2018 |
4 Dusun di Desa Dadap |
Kepala Desa |
Pemdes, LPSDM |
Fasilitasi |
Rencana
aksi PRB Hama dan Penyakit Tanaman |
||||||||
|
No |
kegiatan
|
target |
waktu |
lokasi |
Penangung
jawab |
Pihak
Pendukung |
Bentuk
Dukungan |
|
|
1 |
Penyuluhan tentang serangan hama |
1 kali dalam setahun |
januari 2018 |
Kantor Desa |
Kepala Desa |
Pemdes, LPSDM |
Fasilitasi |
|
|
2 |
Pelatihan
pembuatan pupuk organik |
1 kali dalam setahun |
juni 2018 |
Kantor Desa |
Kepala Desa |
Pemdes, LPSDM |
Fasilitasi |
|
|
3 |
Penyuluhan
tentang pola tanam |
2 kali dalam setahun |
desember 2018 |
Kantor Desa |
Kepala Desa |
Pemdes, LPSDM |
Fasilitasi |
|
Lampiran 3
SKETSA
LOKASI BENCANA DESA DADAP

ampiran : 4
Photo Dokumentasi Kajian Resiko Bencana di
Desa Dadap Kec. Sambelia Lombok Timur






Lampiran daftar Hadir Kegiatan Desa
Dadap




Komentar
Posting Komentar